Selasa, 25 Agustus 2009

Menjaga Lisan

Setiap kata yang terlontar dari lubang mulut dan yang dimotori oleh lisan ini pasti membawa dampak selanjutnya dari apa yang diucapkan entah itu dampak baik ataupun buruk. Pernah suatu ketika saya hampir dibuat marah oleh ucapan seseorang yang tak cukup berarti (sangat tidak penting) menurut saya, tetapi karena seseorang tersebut berbicara terlalu banyak(cerewet) dan nada yang cukup tinggi (keras) ditambah dengan kondisi pikiran yang sedang banyak masalah membuat diri saya cepat naik darah. Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa lisan dapat membawa dampak buruk kepada orang lain bukan karena apa yang diucapkan namun hanya bagaimana cara pengendaliannya.

Lalu, apa yang menyebabkan kualitas statement yang kita ucapkan kepada orang lain menjadi lebih bermutu dan pengendalian dari lisan ini menjadi lebih baik dan menjaga sopan santun? Ternyata tak lain adalah hati. Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata kasar, menyakitkan, jorok, dan sia-sia bersumber dari hati yang tidak beres. Seseorang yang hatinya tidak selamat akan sangat sulit mengendalikan lisannya. Apa saja yang terlihat di depan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar, terlepas dari komentarnya itu bermutu atau tidak, bermanfaat bagi dirinya atau tidak, ada yang mendengarkan atau tidak. Jelas, tak akan pernah disadari bahwa perkataaanya mungkin bisa sisa-sia.

Bahkan tak jarang ucapan-ucapan yang tak bermutu tersebut dapat menggelincirkan lisan ke arah ghibah hanya karena di antara ucapannya terselip maksud mengumbar aib orang lain agar ucapannya didengar dengan seksama oleh audience setempat. Setelah ghibah hal yang mungkin sangat berbahaya adalah fitnah. Ini bisa terjadi setelah orang lain yang mendengar merasa tersakiti hatinya dan dia merasa tidak seperti apa yang dibicarakan orang lain. Hal ini barang tentu akan menggandeng penyakit lisan selanjutnya yaitu dusta dan masih banyak lagi dampaknya jika dirunut.

Bak seperti teko yang memiliki isi di dalamnya, setiap ucapan yang keluar dari mulut merupakan cerminan isi dari hati. Teko yang berisi kopi pastinya akan mengeluarkan kopi dan teko yang berisi air bening juga akan mengeluarkan air beningnya. Tiap-tiap kalimat yang keluar dari lisan, kata Syeikh Ibnu Atha’illah, pastilah membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya.

Lisan selain sebagai indra pengecap merupakan anugrah Allah SWT yang diberikan dengan wujud tanpa tulang, tunggal dan terkadang memiliki akibat yang bermacam-macam baik dari arah negatif sampai ke arah positif. Mengeluarkan kata-kata yang bagimanapun dari lisan sungguh termat mudahnya dikarenakan tak ada sepatah tulang yang membatasi gerakannya. Akan tetapi, apa dampaknya dan bagaimana akibatnya, itulah yang sering tidak terpikirkan. Sepatah kata yang terucap sama sekali tidak akan membuat tubuh seseorang terluka, namun siapa yang tahu kalau justru hatinya yang tersayat-sayat. Atau sebaliknya, sepatah kata yang terucap, justru malah menjadi penyebab si pengucapnya mendapat celaka ataupun selamat, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak. Rasulullah saw bersabda, “Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (bukan memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf nahi munkar dan Dzikrullah ‘Azza wa Jalla!” (HR Trimidzi).

Allah pun sudah menjanjikan surga bagi orang-orang yang mampu menjaga lisannya dan neraka bagi orang-orang yang lengah menjaga lisannya. Seperti hadis di bawah ini:

Barang siapa yang memelihara apa yang ada di antara janggutnya (yakni lisannya) dan apa yang ada di antara kedua pahanya (yakni farjinya) karena aku, “ sabda Rosulullah, “niscaya akan kujamin dia masuk surga” (HR Bukhari).

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, yaitu mulut dan farji” (HR Tirmidzi).

Lidah, tanda tenaga dan tanpa biaya bisa kita gerakkan setiap saat. Barang siapa di antara kita terlampau banyak bicara, akan sangat cepat mengeraskan hati. Orang yang paling beruntung di dunia ini adalah “fal yaqul khairan au liyashmut” – orang yang sangat bisa memperhitungkan setiap kata-kataya. Barang siapa yang berpikirnya lebih banyak daripada bicaranya, insyaAllah, kata-katanya akan membersihkan hati. Dan hati yang bersih adalah hati yang diselamatkan Allah di Yaumul hisab nanti.

..Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S.Qaf :18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)