Kamis, 09 Agustus 2012

Kemerdekaan Indonesia


Yup, entri ini saya sebagai penulis publikasikan menjelang detik-detik ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, negara penulis dan mungkin negara Anda. Judul di atas menyiratkan sebuah keberhasilan perjuangan para pejuang dan pahlawan dalam mengusir bangsa penjajah di bumi pertiwi yang kita cintai. Namun, bulan Agustus tahun 2012 dimana postingan ini diluncurkan, setidaknya dalam pikiran Anda selaku pembaca budiman, belum sepenuhnya sepakat dan setuju dengan judul yang secara eksplisit saya ungkapkan.

Kilas balik Hingga 1999
Ya, bangsa Indonesia, pemilik negeri yang begitu makmur dalam hal sumber daya alam. Negeri gemah  ripah loh jinawi, dengan segala keberagaman yang luar biasa; ratusan suku, ribuan pulau, sederet bahasa, berlimpah aneka tarian dan lagu daerah, menjadikan Indonesia adalah negeri berjulukkan zamrud khatulistiwa. Teringat waktu saya kelas 3 SD dulu, Almarhum ayah saya sering bercerita tentang wawasan nusantara, dan menjadikan saya selalu terpacu dan selalu bersemangat dalam membangun negeri ini nantinya. Peta Indonesia, menggambar peta, baik peta umum atau peta khusus menjadi hobi saya kala itu, karena ingin sekali melihat Indonesia jauh lebih dalam. Inventarisasi segala keberadaan dan eksistensi sumber daya dan budaya yang ada di Indonesia, menjadikan saya menjadi "penulis buku cilik" yang melahirkan sebuah karya "Wawasan Nusantara" versi tulisan tangan, kala itu.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang. Bukan bercanda, ini serius. negara api memang menyerang Indonesia kala itu. Penggulingan rezim orde baru oleh anak-anak muda Indonesia yang berakhir ricuh, menelan korban, dan merusak banyak fasilitas umum itu menjadi peristiwa yang tidak bisa terlupakan oleh rakyat Indonesia yang hidup di masa itu. Ya, era reformasi bergulir, orde baru runtuh dan demokrasi menuju singgasana tertinggi rakyat Indonesia, setelah sekian lama digenggam secara otoriter oleh sang raja. Masa transisi itu melepaskan rantai-rantai pers dan media yang selama 32 tahun itu kuat mencancang hingga akhirnya saya bisa bercuap-cuap di media maya ini. Dan di sanalah juga terbongkar semua kasus-kasus "bento" dengan diiringi ketidakstabilan ekonomi, dan melejitlah angka tukar rupiah atas dollar amerika hingga puluhan ribu rupiah.

Keterjajahan Kembali
Merdeka? Ya merdekalah kita secara de yure, di sweet seventeen on friday, August 1945 M (9 Ramadhan 1364 H) dan tahun ini Indonesia menggenapi umurnya menjadi 67 tahun, di tanggal 17 Agustus 2012, di bulan ramadhan juga. Sepintas sebuah keberkahan sendiri bagi bangsa ini yang berharap ada suatu keberuntungan menaungi negeri ini di bulan yang penuh berkah. Namun realita menjawab tak ada yang namanya merdeka, mungkin hingga detik ini, penulis mengetikkan kata di atas blognya. Why? Mungkin saja seribu alasan bisa dibuat oleh orang-orang sinis nan pesimis kala dinyatakan Indonesia merdeka lebih dari setengah abad lamanya. But, tak perlu orang-orang seperti itu yang perlu mengungkapkan pendapatnya, jika cukup rakyat jelata lah yang berhak mendapatkan live interview akan hal ini. Dan penulis akan mengungkapkan sejauh mana kengerian yang patut direnungi oleh bangsa Indonesia, termasuk saya sendiri sekaligus ketidakberdayaan sebuah bangsa yang bisa diibaratkan tikus lapar di lumbung beras, menjadi budak di rumah sendiri dan merasa nyaman di atas kegelisahan saudara sendiri. Silakan disimak.

Levelisasi Sosial dan Ras
Sub topik ini akan sedikit mengguncangkan jantung Anda, dan saya harap banyak kritik pedas yang melontar khusus untuk sub topik ini. Indonesia kaya akan suku bangsa dan kebudayaan, kini telah dapat dibagi secara umum dan kasar oleh penulis menjadi beberapa bagian dan itupun karena levelisasi berdasarkan role yang dimilikinya. Adapun mengapa dasar-dasar lain tidak dijadikan landasan hanya karena penulis tidak mungkin menuliskan semuanya di sini. Baiklah, secara ragam atau variansi, memang kekayaan ras sudah menjadi keunggulan. Secara peran, bangsa Indonesia tak ubahnya seperti ini. 

1) "Di antara sekian banyak suku-suku itu, mereka sebenarnya sudah disatukan dalam satu bendera. Namun, itu tak berpengaruh banyak jika mereka tidak saling kenal mengenal"
Substansi yang dibangun dari kalimat tersebut adalah, mereka, kita atau bangsa Indonesia belum mampu menjalin secara erat tali kerukunan yang seharusnya sudah dimiliki sejak merdeka. Frase tidak saling kenal mengenal di sini penulis mencoba membuatnya menjadi lebih beraneka bentuk makna. Di antaranya, kenal dan mengenal dalam artian harfiah sesungguhnya, yakni mengetahui dan merasa memiliki hubungan. Lagi-lagi pengetahuan dan wawasan memiliki peran penting di sini. 

Mirisnya zaman sekarang, generasi muda di indonesia terjejali berbagai informasi yang sangat mudah diakses, tetapi di sisi lain, wawasan nusantaranya masih rendah. Ah masa?! Penulis menjumpai anak-anak remaja zaman sekarang yang banyak tidak tahu suatu nama tempat, padahal itu nama ibukota provinsi. Jangankan ibukota provinsi, anggota penyanyi girlband Indonesia saja ditanya kepanjangan DKI dari DKI Jakarta saja tidak tahu. Parah! Kemudian yang merasa tersangkut dan tersinggung pun bertanya, "Apakah punya pengaruh besar memiliki wawasan dan pengetahuan seperti itu?". Dengan santai, penulispun menanggapi, "Sekecil apapun pengaruh, nyata sekali terasa bagi orang yang mau berpikir". Kenal atau tidak sebenarnya pengaruhnya sangat kecil hanya saja, dengan mengenal tentu lebih baik daripada tidak. Efek mengetahui dan memahami inilah yang akan menjadi dasar rasa peduli dan berbagi. Bagaimana bisa peduli kalau tidak tahu. Benar-benar-benar?! Dan cukuplah benar apa yang dikatakan salah satu pesepak bola timnas Indonesia, bahwa Indonesia bersatu karena dua hal yaitu timnas sepak bola dan gempa bumi.

2) "Mereka (rakyat Indonesia) tak lebih dari kumpulan orang asing yang kaya dan orang pribumi yang miskin"
Sebuah pernyataan yang pedas tetapi itu adalah wujud generalisir masalah yang ada. Tak ubahnya sebuah bangsa yang masih terjajah, rakyat pribumi lebih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kalau kita menilik dusun-dusun di daerah tertinggal, merupakan kemirisan dimana mereka tidak mendapatkan sentuhan pendidikan, kesehatan, dan jaminan yang cukup berarti dari pemerintah. Bukan berarti mengabaikan usaha pemerintah dalam membangun daerah tertinggal, tetapi nuansa pembangunannya yang kurang terwarnai, kurang gencar dan cenderung tertutup oleh isu-isu level sosial papan atas. Inilah yang mengakibatkan perjalanan nuansa pembangunan Indonesia didominasi oleh investasi dari kalangan asing, dan parahnya lagi, perusahaan-perusahaan raksasa yang dibangun di Indonesia adalah milik asing dan kebanyakan menguasai sumber daya yang tidak terbaharukan. Ini adalah bentuk penjajahan ekonomi yang mungkin kita tidak sadar. Lantas, apa yang terjadi dengan orang pribumi?

Orang pribumi zaman memiliki paradigma yang sama dengan para pendahulunya yang notabene korban dari cuci otak bangsa penjajah, terutama Belanda. Saat itu Belanda sangat ketakutan saat China, Islam dan India mewarnai kehidupan ekonomi Indonesia saat itu dengan nuansa perdagangan, tepatnya beberapa tahun sebelum model pergerakan nasional muncul ke permukaan. Perdagangan menjadi nuansa yang tidak disukai oleh Belanda saat itu, karena dengan perdagangan otomatis ekonomi akan kuat, dan susah untuk dikuasai. Dengan perdagangan, rakyat Indonesia menjadi rajin dan lebih mandiri. Ide licik pun dituangkan dalam sebuah strategi jitu Belanda saat itu, yakni dengan menjadikannya beberapa penduduk pribumi menjadi pemimpin daerah, baik bupati, demang atau bahkan menjadi "abdi dalem" Belanda. Fasilitas, gaji, kecukupan dan jaminan menjadi tawaran menarik bagi rakyat pribumi terutama yang memiliki darah bangsawan ataupun priyayi. Nah dari situlah, muncul sebuah pemikiran bahwa menjadi pejabat, pegawai dan pengabdi lebih makmur dibandingkan menjadi seorang pedagang. 

Perdagangan sebenarnya menjadi simbol kekuatan ekonomi bangsa pribumi dengan khasnya produk sumber daya kreatif yang kemudian diwarnai dengan syariah adil dari Islam dan strategi ketimuran dari bangsa China dan India. Pemikiran seperti ini turun menurun hingga sekarang, dan menyebabkan banyak cendekiawan dan para intelek lebih memilih jalan menjadi pejabat, pegawai, pengabdi bagaimanapun caranya dan berapapun biayanya. 

Paradigma seperti ini tidaklah salah, tetapi ketika itu menjadi berlebihan dan menjadikan sandaran utama, maka tak sulit bagi bangsa asing saat ini untuk menguasai Indonesia. Rakyat pribumi lebih suka bekerja di bankir-bankir, perusahaan asing, pegawai negeri sipil daripada menjadi seorang pedagang atau pengusaha mandiri. Penulis tidak memojokkan golongan tertentu, tetapi inilah yang sedang terjadi, dan bisa dicek berapa angka pengangguran di Indonesia menurut BPS berdasarkan tingkat pendidikannya. Pendidikan tinggi lebih ke arah mencetak tenaga-tenaga profesional dengan mengabaikan karakter kemandirian, kewirausahaan dan kepedulian terhadap sosial dan lingkungan. Penulis mengangkat kisah sendiri dimana dia sebenarnya merasa terpanggil untuk melakukan suatu perubahan-perubahan, tetapi itu tidak bisa dilakukannya semasa masih diserahi tanggung jawab institusi atau menjadi karyawan.

3) "Dari dulu mereka dikenal sebagai bangsa yang ramah dan indah, tetapi sekarang mereka lebih cocok dianggap sebagai bangsa yang murah dan mudah"
Sindiran yang sangat pedas? Saya sebagai penulis di sini mohon maaf, dan penulis pun juga masih bagian dari bangsa Indonesia kok. Baiklah, mentranslasikan pernyataan tersebut, saya berangkat dari keadaan dan atribut yang dibawa pada dimensi sosial bangsa Indonesia. Mungkin terlalu umum jika mengkaitkan dimensi sosial ini pada levelisasi sosial tertentu. Namun, secara ringkas, ada dua garis besar yang akan ditarik di sini. Ya, kehidupan di desa dan di kota. 

Di desa, kemajemukan sangatlah minim, dan lebih banyak didominasi oleh unsur religius, kepercayaan, dan abstract power. Abstract power ini biasanya lebih mengarahkan ke semangat, kepedulian, kegotong royongan dan kebersamaan. Akibatnya, nuansa pembangunan di desa ini tidak terlalu didominasi oleh faktor pendukung kemajuan yang berarti seperti teknologi, kebijakan dan birokrasi yang akhirnya menjadikan desa menjadi soko guru nuansa pembangunan Indonesia. 

Pun begitu, ternyata pemandangan ini sekarang sudah berbeda dengan yang diungkapkan sebelumnya. Penduduk desa pun lebih terdorong untuk berpindah ke tempat yang namanya kota, dengan banyak harap di sanalah rezeki dan kemakmuran lebih mudah digapai. Peristiwa urbanisasi seperti ini sudah sangat sering kita saksikan dan mungkin terasa setelah event tahunan mudik lebaran terjadi di setiap bulan syawal. Berbondong-bondongnya penduduk ke kota ini, mengakibatkan desa terkesan terbelakang, kuno, tidak maju dan tidak memakmurkan. Kota menjadi tempat yang berbeda dan harapan melambung tinggi dengan adanya lapangan pekerjaan dan sebagainya oleh mereka.

Di kota tak ubahnya seperti yang kita sering saksikan di media. Ya, mungkin kasta kota pun terjadi karena mungkin perbedaan pertumbuhan ekonomi dan industrinya. Namun, ternyata kasta secara implisit dan invisible terjadi di kehidupan sosial juga. Kota menghadirkan kemajemukan yang tinggi dan pendistribusian penduduk yang tidak baik. Dikatakan tidak baik, karena di sinilah apa yang dinamakan pengetahuan, keahlian, jabatan, kekuasaan, pengaruh menjadi titik-titik perbedaan manusia secara sosial. Jelas itu akan menambah kompetisi di sana, baik secara kualitas dan kuantitas. Kompetisi ini ibarat dua sisi pisau yang menghadirkan dua efek yang bertolak belakang tetapi terhubung bagai lingkaran setan.

Kompetisi di kota menyebabkan kualitas kehidupan menjadi naik, value dari ekonomi juga tumbuh dan nuansa pembangunan pun lebih terasa. Namun, nilai-nilai kompetisi ini tidak diimbangi pula dengan apa yang dinamakan kepedulian dan persatuan. Nah inilah yang mungkin sering kita katakan, penduduk kota biasanya lebih individualis. Atribut seperti menghadirkan kecemburuan sosial yang bila itu terakumulasi dalam waktu yang lama akan menyebabkan suatu paradigma baru yang memperjauh gap-gap sosial. Orang kaya akan makin kaya dan orang miskin makin miskin. Orang pandai, terampil dan punya pengaruh makin makmur, orang bodoh, tidak terampil dan tidak terdidik makin terpuruk. Itu dari sisi ekonomi, dari sisi pandangan sosial budaya tentulah orang-orang yang boleh dikata tidak beruntung ini, akan menjadi pesakitan, dianggap sampah dan bahkan dipandang sebagai penghambat. Sedangkan orang-orang yang beruntung tadi makin nyaman dengan kondisinya. Pribumi beruntung sudah mapan dengan jabatan, penghasilan dan jaminan yang diperolehnya. Asing makin merajalela menguasai ekonomi dan kelamaan "nglunjak" menembus batas birokrasi, dimana birokrasi diatur oleh regulator yang notabene sampai saat ini, dianggap tidak bisa dipercaya atau tidak amanah. Nah, dengan begini pula, kata "murah" dan "mudah" sepertinya cocok untuk bangsa ini. 

Murah untuk dibeli dan dilabeli dan mudah dihasut dan diadu domba. Sederhana masalahnya, tetapi bisa dijadikan konflik yang berkepanjangan dan berujung pada penyelesaian yang tidak cerdas. Keramahan dan keindahan bukan lagi mewarnai kehidupan berbangsa di negara ini, dan kita tentunya lebih prihatin bagaimana gesekan dan kecemburuan di masyarakat lebih mudah terjadi.

4) "Mereka sebenarnya cerdas, mereka sebenarnya hebat, tetapi kehebatan mereka tidak memiliki pengaruh apa-apa, kalaupun ada itu tidaklah besar dan signifikan"
Pernyataan ini menggambarkan generasi penerus bangsa ini yang sering diolah bahasakan dalam bahasa kasar sehari-hari seperti ini : "Banyak lulusan ekonomi, tetapi ekonomi Indonesia tidak pernah membaik, banyak lulusan hukum, tetapi banyak lembaga peradilan yang kotor". Cendekiawan dan lulusan pendidikan di Indonesia harus paham dan peduli dalam menghadapi pernyataan-pernyataan seperti itu. Generasi yang suram adalah generasi yang bagaikan buih-buih di lautan, mereka banyak tetapi mudah terombang-ambing. Nah di sinilah sisi salah pendidikan Indonesia yang lebih banyak mengajari bagaimana menjadi orang kaya, bagaimana bisa mencari uang, bagaimana menjadi orang yang berpengaruh dan berkuasa. Mereka tidak banyak dididik bagaimana cara peduli dan bermanfaat bagi sekitarnya. Padahal sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat, ternyata pemikiran seperti ini sudah tidak bisa masuk ke dalam otak bawah sadar yang sudah dipenuhi dengan pemikiran yang cenderung mengejar target individu. Jika target belum terpenuhi haram hukumnya membantu yang lain, apalagi menganggapnya sebagai kompetitor. Jelas inilah yang menyebabkan bangsa ini sudah sangat terpuruk dan jatuh. 

Kabar mengenaskan yang akhir-akhir ini tersiar adalah Indonesia yang notabene penduduknya adalah tempe-tahu lovers, ternyata bahan bakunya (kedelai) 70% lebih dipasok dari negara manca. Kemana saja para intelektual Indonesia? Kemana saja para cendekia pertanian Indonesia? Ya, negara agraris dan di sana berdiri berbagai institusi pendidikan yang fokus pada masalah pertanian, ternyata hanya menghasilkan para sumber daya manusia yang siap dijadikan sapi perah oleh bangsa asing, terninabobokan oleh jaminan kemakmuran dimana itu membutakan apa yang terjadi di sekelilingnya. "Kasta" menengah dari para cendekia itu juga lebih memilih untuk mencari sumber-sumber penghidupan dengan tanpa ampun saling sikut dan yang kalah dalam adu sikut itulah yang menjadi pembicaraan di media pagi atau pun sore.

5) "Mereka punya jatidiri yang sangat menakutkan, tetapi akhirnya jatidiri itu tidak dipakai dan tertutup arus globalisasi sehingga mereka lebih memilih untuk ikut-ikutan"
"Ikut-ikutan" dalam bahasa pemasaran boleh disebut sebagai trend. Trend bisa mengarah ke dua arah, positif atau negatif. Trend positif bersifat konstruktif, sedangkan trend negatif lebih ke arah destruktif atau bisa jadi tidak berpengaruh banyak. Globalisasi memberikan efek yang luar biasa hebatnya bagi bangsa ini dan tidak bisa dipungkiri hampir seratus persen kehidupan sosio kultur bangsa ini tak lepas dari arus globalisasi. Berbicara masalah jatidiri, bangsa ini sebenarnya memiliki dua modal besar, yang pertama keyakinan (agama) dan budaya. Kehidupan yang seandainya dihiasi oleh nilai-nilai agama tentunya akan memberikan efek sosial yang baik dan tidak menyimpang. Dipadukan dengan budaya, norma yang diangkat dan disepakati meski tidak tertulis menjadikan dua modal itu sebagai jatidiri yang baik bagi sebuah peradaban bangsa. Namun, lagi-lagi derasnya arus informasi dan globalisasi yang sering jadi kambing hitam menjadikan norma telah bergeser dan agama dianggap sesuatu yang menghambat bahkan hanyalah trend. Sebagai contoh, banyak artis-artis yang dianggap sebagai public figure itu mencontohkan berbusana muslim saat-saat ramadhan, di bulan lain? Hampir bugil mungkin bisa kita lihat. 

Nah jatidiri bangsa ini sudah cenderung luntur dan ikut-ikutan. Apapun yang dianggap baik yang berasal dari luar tidak sepenuhnya difilter dan dicocokkan dengan kaidah yang bersumber dari jati diri bangsa, malahan dijadikan sebuah pujaan baru, gaya hidup baru dan sebagainya. Tentunya pernyataan kelima ini sangatlah dominan terjadi di negeri ini. Bahkan mental menjatuhkan, memprovokasi, menyimpang siurkan informasi, dan adu domba sudah didemonstrasikan secara eksplisit tanpa rasa malu. Dan bukan tidak mungkin lagi, Indonesia bakalan dikuasai dengan mudah oleh bangsa lain.

Nah lima hal di atas, mungkin gambaran umum bagaimana Indonesia sampai saat ini ternyata masih terjajah. Penjajahan pertama adalah penjajahan pemikiran, selanjutnya penjajahan sesama saudara, penjajahan ekonomi dan yang terakhir terjajah secara terstruktural dan sistemik. Mungkin itu saja yang bisa penulis bagikan. Adapun kritik pedas siap dijawab, tentunya dengan ilmu. Jika ada waktu luang, penulis akan membagikan bagaimana cara mengubah bangsa ini dimulai dari mengubah diri sendiri. Insya Allah. Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika banyak kekeliruan dan kekurangan.

Tiar Aristian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)