Jumat, 29 Oktober 2010

Instant Reply

Sedekah agar bersyukur, sedekah untuk saling mengasihi, sedekah untuk saling menyayangi, dan sedekah agar semua kita di dunia ini dapat menciptakan kebahagiaan lahir, ketenangan batin dan "surga" di dunia ini.....(Posting Sebelumnya)


Pengharapan Balasan
Saya tidak pernah memikirkan jikalau kita memberikan sesuatu yang dapat membantu orang-orang yang tidak mampu, kita akan mendapatkan balasan langsung di dunia ini. Esensi sedekah yang telah saya singgung pada posting sebelumnya, tidak sama sekali saya harap sebuah "materi pengganti" dari apa yang kita keluarkan untuk bersedekah. Lebih rinci, saya beranggapan sedekah adalah suatu bentuk dari kepedulian kepada sesama dimana posisi kita yang sedang "di atas" seharusnya dimanfaatkan untuk menjadi penolong sesama kita yang ada "di bawah".
Jelas anggapan itu adalah subjektif saya semata. Jika orang sering mengatakan semata-mata mengharap ridho Allah, saya malah jadi takut, apakah kita berbuat baik kepada sesama hanya untuk mengharap imbalan lebih dari Allah? Atau jika dibalik pertanyaannya, jika Allah tidak memberikan apa-apa (alias pahala dan sebagainya) terhadap orang-orang yang memiliki kepedulian, apakah mereka masih mau menunaikan perbuatan tersebut?
Jelas, yang saya maksud di sini, saya tidak "menyingkirkan" kasih sayang Allah terhadap umatnya. Saya lebih tertarik, jika semua perbuatan tersebut kita balikkan menjadi sebuah fitrah manusia yang diberi akal untuk berpikir, bukan menjadi ahli penurut saja.
Bagi saya pribadi melihat orang lain bahagia dan senang, adalah suatu bentuk kepuasan batin tersendiri. Melihat orang yang duduk-duduk di pinggir jalan dapat meneguk segelas air dan mengisi perut mereka yang kosong, adalah sebuah "pahala" tersendiri menurut saya. Mungkin tak semua orang memiliki presepsi yang sama dengan saya. Namun, jika dirunut ke batin terkecil, saya jauh lebih yakin, anda akan merasa sangat bersyukur sekali ketika anda mengilhami dari esensi saling berbagi tersebut. Jika anda tengok sebentar keluarga anda yang begitu sukacita dalam menjalani hidup ini, kemudian anda bayangkan jika keluarga anda, anda "taruh" pada posisi mereka-mereka yang sedang kekurangan, tentu anda akan berkata, bahagianya diri saya dan terima kasih saya kepada pencipta.

Jelas, sebuah kesucian manusia untuk berpikir dan memikirkan apa-apa yang telah diperbuatnya, tentang akibat dan sebab segala sesuatu dilakukan. Motivasi sebagai sebab, dan harapan sebagai output dari proses adalah hukum yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Semua harapan adalah cerminan kita agar termotivasi. Kita mengharap pahala, kita mengharap surga dan kita mengharap kebahagiaan di dunia ini dan akhirat nanti, adalah sebuah motivasi yang dapat mendorong kita melakukannya. Namun, sekali lagi esensi dari semua motivasi itu adalah untuk menciptakan apa yang dinamakan kepuasan. Kepuasan-kepuasan di atas adalah kepuasan tingkat lanjut. Jika kembali ke topik tentang "saling berbagi", ada kepuasan yang lebih dapat kita nikmati, yakni kepuasan menciptakan "surga" di batin kita, dan "surga" di batin mereka.

Ar Rahman Ar Rahiim, Sifat Sang pencipta yang selalu terbaca di awal melakukan sesuatu, memiliki esensi bahwa, kasih dan sayang itu adalah "inherit" dari sifat Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang harus kita pancarkan setiap hari, dalam setiap melakukan sesuatu, menjadi landasan luar biasa akan semua perbuatan yang kita lakukan.

Instant Reply.
Seperti yang sudah saya utarakan di posting sebelumnya, saya akan menceritakan balasan langsung oleh Allah terhadap apa yang kita sedekahkan.

Ya, ketika itu saya sedang bangkrut-bangkrutnya, dan bahkan orang tua saya meminta untuk menyisihkan uang agar dapat pulang saat lebaran tiba. Jelas, sebuah misi sulit dalam rangka menekan segalanya. Semua pos-pos utang sudah saya singgahi, dan tercecer utang di sana, sehingga saya sendiri lupa jumlahnya. Dan saking banyaknya, saya jadi takut untuk tiap kali menghitungnya. Semua pendapatan dari berbagai sumber hanya bisa menutup kurang dari 50%.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saat itu bulan Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Agustus. Jejak-jejak sedekah yang saya telusuri saat itu sangatlah banyak. Saya merasa sangat bahagia sekali saat itu meski saya tak punya se-sen pun uang pribadi. Kebahagiaan itu saya ungkapkan dengan menyisihkan segala uang kembalian dari sahur dan buka puasa. Saya masih bisa mengisi perut meski saya sendiri mengakui saya sudah tidak punya apa-apa lagi.

Dan saat-saat dimana kasih sayang Allah pun tiba. Di tengah kesulitan saya, ternyata muncul berbagai kemudahan. Saat itu, ada acara Sidang Senat di kampus. Saya mendapatkan sms, agar saya datang pada acara tahunan untuk menyambut mahasiswa baru tersebut. Tak pernah saya harapkan sebelumnya, saya terpilih menjadi mahasiswa aktivis dan berprestasi di bidang akademik angkatan 2008. Sebuah nikmat yang saya harus luar biasa bersyukur di sana. Tak tanggung-tanggung, hadiah yang digelontorkan kampus untuk satu orang mencapai angka dua jutaan. Belum lagi, saya mendapatkan penghargaan atas keikutsertaan saya di PKM yang diadakan dikti, dan itupun disertai dengan lembaran merah sebagai tanda penghargaan. Sungguh saya merasa bagaikan hidup kembali saat itu. Saya merasa seluruh kewajiban saya untuk menutup lubang galian rontok sudah.

Setelah acara selesai, saya pulang ke kontrakan. Tak lama kemudian, saya mendapatkan sms, berasal dari PT Finnet Indonesia, saya mendapatkan virtual cash senilai setengah juta, karena saat ada seminar di kampus dari perusahaan jasa finansial tersebut saya bertanya. Sujud syukur tak terkira saat itu, ditambah lagi, virtual cash tersebut dapat digunakan untuk membayar telepon, listrik dan membeli pulsa. Kontan saja, saya langsung memanfaatkan semuanya untuk membayar utang saya dan kebutuhan saya. Dan Idul Fitripun menjadi momen tepat bagi saya untuk berzakat.

Saya bersyukur sekali atas semua yang saya dapat saat itu. Betapa serumit apapun masalah dan sesulit apapun kehidupan, semuanya dapat dirontokkan oleh kemudahan-kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

Ya Allah, saya hanyalah makhluk yang engkau sengaja ciptakan untuk mengarungi kehidupan ini. Tak ada sekecilpun yang luput Engkau urus. Ya Allah, sesunggguhnya Engkau telah merencanakan semua kesulitan ini, agar saya ditampakkan oleh-Mu akan kebesaran-Mu, kasih dan sayang-Mu terhadap ketidakberdayaan ini. Sungguh, Engkau adalah Dzat yang tidak pernah tidur.


Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)