Jumat, 08 Oktober 2010

Pandangan Saya Tentang Esensi Sedekah

Melanjutkan kisah saya yang hampir merasakan kebangkrutan, saya ingin bercerita dimana sebuah amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW akan dibalas secara kontan di dunia. Sering saya mendengar ceramah, khotbah dan tausyiah keagamaan mengenai amalan ini, yang tak lain dan tak bukan adalah sedekah atau shodaqoh. Saya merasakan betapa luar biasa amalan ini sehingga saya dapat selamat dari jurang kebangkrutan.

Saat itu, benar-benar hanya ada lembaran ribuan berserakan si meja belajar saya. Jumlahnya tak lebih dari 20 lembar dan setidaknya itu bisa menyelamatkan perut saya dua hari ke depan. Kebetulan bulan itu adalah bulan Ramadhan, sehingga saya merasa tidak perlu mengeluarkan rupiah untuk siang hari, apapun itu, cukup untuk sebelum shubuh dan setelah adzan maghrib.

Dari kampung halaman, bapak dan ibu selalu bertanya-tanya apakah Ibu Haji sudah menagih uang kontrakan atau belum. Dengan sedikit menahan kesedihan, saya selalu mengatakan belum, meski fakta mengatakan sebaliknya. Itu saya lakukan agar setidaknya orang tua saya tidak merasa terburu-buru mencari puluhan lembaran merah. Apalagi, mereka selalu berkata, untuk sabar menunggu uang tersebut. Dari pernyataan mereka tersebut, saya menafsirkan mereka sedang kesusahan menghimpun uang sebanyak itu dalam waktu dekat. 

Akhirnya saya putuskan untuk mengatakan pada mereka bahwa uang kontrakan dapat dibayar setelah lebaran. Tentunya hal tersebut saya lakukan setelah hampir satu jam saya bernegosiasi dengan Bu Haji agar mengundurkan jatuh tempo penarikan uang kontrakan. Saya merasa selamat sementara itu. Ringkasnya, semua permasalahan saya di atas adalah masalah yang berhubungan dengan kekurangan uang, atau kemiskinan, atau kepailitan, atau kebangkrutan atau apapun namanya, silakan tafsirkan sendiri. Saya hanya mencoba bersabar, untuk menghemat pengeluaran dan mencari tambahan.

Ketika itu terik menyengat seluruh badan saya melewati jembatan yang membelah kali kotor, dengan kondisi kepayahan karena shaum. Namun, saya anggap itu biasa, karena tiap hari pun (di luar Ramadhan) saya juga sering mengalami seperti itu. Menyusuri gang kumuh, saya mendapati peminta-minta di dekat selokan rumah-rumah warga. seorang nenek yang sepertinya tidak ada daya lagi untuk mengerahkan tenaganya dan hanya sanggup mengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berlalu lalang di sana. Saya lihat di mangkok di depannya hanya ada uang koin dan beberapa lembar uang ribuan, jumlah yang agaknya sukar untuk dikonversikan menjadi makanan dan minuman.

Pikiran saya mulai bodoh, saat saya merasa : Enak sekali pengemis itu, baru setengah hari sudah dapat uang tanpa melakukan apa-apa. Sedangkan saya, harus pontang-panting cari uang yang juga tak seberapa jumlahnya. Segera mungkin saya "menampar" pikiran tersebut. Seribu alasan jelas tak mungkin mendukungku untuk berkata semacam itu. Saya menjadi merasa iba dengan orang-orang seperti itu. Hati saya terbuka lebar-lebar saat saya mengandaikan nenek tua itu adalah ibu saya. Betapa miris saat itu hati saya. Saya menjadi sangat tergugah untuk memberi sesuatu kepada nenek itu. Saya rogoh saku celana saya, dan saya dapati satu lembar sepuluh ribu, beberapa lembar ribuan dan beberapa keping uang koin lima ratusan. Saya taruh satu keping lima ratusan di mangkok itu dan seketika nenek tersebut mendoakan saya dengan bahasa Indonesia campur sunda. Saya tak begitu mengerti tetapi intinya, semoga saya menjadi sukses, diberi rejeki banyak dan diberi kelancaran dalam urusan-urusan.

Saya malah merasa menjadi berutang budi dengan nenek tersebut, uang yang saya berikan tak seberapa tetapi sungguh jika doa sebagai penggantinya, saya malah jadi trenyuh. Saya segera berlalu dan meninggalkan nenek tersebut, untuk setidaknya tidak memperlihatkan amal itu. Baru berjalan satu meter dari tempat nenek tersebut duduk, tanpa ada pikiran apa-apa saya berbalik arah dan menjatuhkan dua lembar ribuan, kemudian tak ingin berpikir lagi tentang itu, segera meninggalkan tempat tersebut.

Sekilas, kejadian tersebut seperti saya tidak pernah bersedekah saja sebelumnya. Untuk amalan yang satu ini saya menganggapnya amalan ringan, tak dikerjakanpun juga tak akan dosa. Amalan sedekah ini sebelum-sebelumnya saya lakukan secara sepintas, spontan dan saya tidak pernah memikirkan esensinya sejauh itu. Saya juga merasa amalan ini perlu saya lakukan saat saya berada di posisi "atas" alias sedang "kaya-kayanya". Saat saya sedang "miskin", saya lebih memilih memendamnya dan mengkonversikannya menjadi makanan ringan atau minuman dingin.

Sungguh, Ramadhan itu bagaikan berkah sendiri bagi saya dimana mata hati saya terbuka lebar-lebar, untuk melihat dan meyaksikan realita kehidupan dengan hati, bukan dengan indra. Semenjak kejadian tersebut, Ramadhan itu, saya isi dengan kegiatan itu. Entah, apakah sugesti atau apa itu namanya, saat saya memberi meski saya sedang pailit, rasanya ada ketenangan di pikiran dan hati ini. Beban utang, kebutuhan dan segala macam seperti tidak ada lagi, dan uang yang seharusnya ditabung untuk mengangsur dan lainnya, malah saya alihkan ke amalan sedekah ini. Sepertinya saya merasa kaya saat itu, merasa saya memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan orang-orang di sekeliling saya. Saya merasa memiliki kewajiban untuk menambah syukur dan perlu banyak-banyak berterima kasih kepada Allah SWT, karena di bawah saya masih banyak yang lebih menderita, lebih kelaparan, lebih bangkrut dan lebih pusing memikirkan apa yang dinamakan finansial alias uang.

Amalan ini mebuat saya semakin asyik untuk melakukannya, dan seolah-olah jika belum melakukannya, masih ada yang kurang di hari itu. Saya tak pernah berpikir agar uang itu kembali, ataupun nantinya saya akan ditolong dan diberi oleh orang lain. Prinsip yang saya pegang selama ini adalah, untuk menciptakan surga saya di akhirat nanti, saya juga harus menciptakan surga di dunia ini. Bukan berarti saya berorientasi lurus kepada balasan akhirat, tetapi menolong orang lain saya rasa adalah sesuatu bentuk keadilan yang harus saya lakukan. Jika saya bisa makan, mengapa orang di dekat saya tidak bisa makan. Jika adik saya bisa sekolah, mengapa banyak sebaya adik saya harus berjualan koran di dekat lampu merah. Jika orang tua saya masih dapat duduk nyaman di kursi sambil menonton televisi, mengapa banyak orang-orang tua masih duduk di pinggir jalan untuk mengais rezeki. Dunia memang sepertinya diciptakan untuk itu agar keseimbangan memang benar-benar terjadi. Dan saya harusnya bersyukur, tidak seharusnya mengeluh hanya uang kontrakan, utang dan kebutuhan kuliah. Saya dan keluarga saya berada di posisi yang dekat dengan "atas" dan mereka-mereka berada di posisi "bawah".

Memang, sedekah tidak hanya memotong gap antara si kaya dan si miskin, tetapi lebih dari itu, yakni rasa syukur yang harus kita terus tambah setiap hari. Tak ada yang disebut kaya jika tidak ada yang dinamakan miskin. Jika semua orang di dunia ini kaya, lantas siapakah yang bersedia menjadi pelayan? menjadi pengantar koran? menjadi penyapu jalan? Syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, atas nikmat berupa "posisi" yang dekat dengan atas. Syukur diciptakannya mereka-mereka yang bisa melayani kita, tanpa sedikitpun mereka berharap sangat kepada kita.

Sedekah agar bersyukur, sedekah untuk saling mengasihi, sedekah untuk saling menyayangi, dan sedekah agar semua kita di dunia ini dapat menciptakan kebahagiaan lahir, ketenangan batin dan "surga" di dunia ini.

Pada posting selanjutnya, saya akan sedikit bercerita tentang balasan kontan yang Allah berikan di dunia ini untuk orang-orang yang rajin bersedekah.
To Be continued

1 komentar:

  1. Partisipasi dan amal jariyah dalam perluasan dan pembangunan masjidil
    haram dan masjid Nabawi

    1. Niat Ibadah ( dari Allah,Karena Allah dan untuk Allah)
    2. Membawa beberapa batu kerikil kecil yang Haq dari tanah air
    3. Point no 2 dapat dibawa sendiri/ dititipkan kepada Jamaah yang akan
    berangkat Umroh dan Haji
    4. Batu kerikil diletakkan diarea yg sedang dibangun/di Cor semen
    5. Atau dititipkan kepada pekerja pembangunan agar diletakkan ditempat
    tersebut
    6. Mudah-mudahan Allah Ridho dengan apa yang kita kerjakan

    * Umumnya waqaf qur'an
    * Tidak ada kotak amal di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
    * Mungkin Batu kerikil tidak berarti untuk sebagian orang,akan tetapi
    jika diletakkan di kedua Masjid tersebut,paling tidak batu kerikil ini
    akan menjadi bagian terkecil dari bangunan tersebut.
    * Moment Perluasan dan Pembangunan Masjidil haram dan Masjid Nabawi

    BalasHapus

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)