Sabtu, 05 Mei 2012

Who Am I? Al Fatihah Menjawab


Dari sebagian kita, dan mungkin sebagian besar kita sudah sangat hafal dengan bacaan Al Fatihah. Ya, surah pembuka Al Quran, sekaligus surah yang wajib dibaca di setiap shalat, entah shalat wajib maupun sunnah, tentunya menjadi surah yang sudah sedari kecil diajarkan. Surah Al Fatihah menjadi bacaan yang sering dipakai dalam berbagai hal, baik membuka majelis, menutup doa dan sebagainya.

Dalam kesempatan posting kali ini, penulis ingin menyampaikan sesuatu tentang isi kandungan Al Fatihah. Namun, rekan pembaca boleh saja memberikan tanggapan, karena penulis sendiri bukanlah ustadz maupun kyai yang memiliki ilmu agama yang sangat dalam. Namun, penulis juga berusaha untuk mempelajari lebih dalam, dan tabligh sebagai salah satu sifat wajib rasul, dan kita sebagai umatnya juga dituntut mengamalkannya. Benar kan.

Baiklah, judul "Who am I? Al Fatihah Menjawab" sebenarnya sudah sangat lama esensinya diketahui oleh sebagian umat muslim. Saya pun juga pernah mendengarannya. Mungkin menjadi lebih baik, jika menjadi pengingat di antara kita yang terus diulang-ulang. Pertanyaan "Who am I ?" menjadi pertanyaan klasik dari setiap manusia yang belum bisa lepas dari fitrahnya, yakni berakal. Setiap manusia berpikir, siapa saya, dimanakah saya saat ini, mengapa saya di sini, apa yang harus saya lakukan, mengapa saya harus melakukan itu dan bagaimana caranya. Pertanyaan itu akan menjadi sebuah retorika kering, jika dijawab dengan rasionalitas dan logika akal manusia biasa. Tentunya, jika ketika saya bertanya, siapa anda, mungkin anda memiliki jawaban bervariasi. Variasi yang disebabkan dari berbagai sudut, entah dari sudut profesi, sudut peran di masyarakat, sudut keturunan dan lain sebagainya. Namun dalam Ummul Quran atau kita sering menyebutnya Al Fatihah ini, memiliki jawaban universal, yang mungkin memuaskan kita semua yang sedang hidup di dimensi fana ini. Baiklah langsung saja.

Siapa saya?
Pertanyaan dasar dan pertanyaan ini sesungguhnya merujuk pada jati diri manusia. Al Quran dalam Ummul Kitab-nya menjawab melalui ayat pertama dan kedua.
Bismillāhir rahmānir rahīm. Alhamdu lillāhi rabbil ʿālamīn

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
Frase tersebut sering kita lafazkan, sebelum melakukan suatu pekerjaaan dan sesudah melakukan pekerjaan.  Artinya segala sesuatu itu, diawali dan diakhiri. Segala sesuatu itu juga harus memiliki awal, dan dari awal itu harus berakhir. Sesuatu itu, tidak mungkin adalah "Sang Pemilik Sesuatu", yang kita kenal Khaliq (Pencipta). Jadi siapa kita? Kita adalah "makhluk". Sesuatu yang memiliki awal dan akhir. Kita diciptakan pada awalnya, namun nantinya kita juga diberakhirkan. Jelas sudah jatidiri manusia tergambar pada dua ayat tersebut, yakni sebagai makhluk, sesuatu yang diciptakan, sesuatu yang pada akhirnya kembali kepada penciptanya. Sesuatu yang tidak akan abadi. Sesuatu yang lemah, akan rusak dan tidak bisa bertahan selamanya. Jadi, seyogyanya kita tidak melebih-lebihkan diri, menyombongkan diri dan berjalan di atas bumi dengan angkuh, karena hakikatnya kita hanyalah makhluk yang suatu saat nanti diakhirkan oleh Khaliq.

Dimana saya?
Pertanyaan dimana saya, akan melahirkan jawaban-jawaban yang berbeda, jika sudut yang kita peroleh adalah sudut waktu. Boleh jadi Anda menjawab, saya sedang di kamar, atau saya sedang di kantor. Namun, untuk sejam kemudian, mana tahu kita tak berada di situ lagi. Ada jawaban hakiki mengenai tempat keberadaan kita. Mungkin ayat selanjutnya dari Ummul Quran adalah jawaban yang sangat tepat.
Arrahmānir rahīm
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Maha Pengasih dan Maha Penyayang dalam artian Bahasa Indonesia, yang berarti Dia memiliki sifat yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jadi, dimanakah kita sekarang, jawaban kurang lebih adalah, kita sedang berada dalam kasih dan sayang Allah. Siapa kita? Apakah orang muslim saja? Tentu saja tidak, Rahmaan dan Rahiim tidak sebatas ditujukan kepada kaum muslim, orang kafir, Yahudi dan Nasrani juga dalam lingkup kasih dan sayang-Nya. Kalau tidak ada kasih dan sayang, yang paling hakiki, tidak mungkin kita bisa hidup di dunia ini. Kalau tidak ada kasih dan sayang tak mungkin, nafas yang berlalu lalang di tenggorokan kita masih lancar hingga detik ini. Kalau tidak ada kasih dan sayang tak mungkin alam semesta ini beredar dengan tertibnya. Secara akal, kita bisa berpendapat seperti itu. Esensi yang bisa kita petik dari pertanyaan "dimana saya", adalah lebih ke arah rasa terima kasih dan syukur kita kepada Sang Rahmaan- Rahiim. Syukur yang diwujudkan dalam bentuk apapun, dan syukur yang mencerminkan perilaku mengingat bahwasanya ada yang sedang "memberi" kita secara terus menerus hingga detik ini, dan "pemberian" itu bisa jadi dihentikan sewaktu-waktu. Jadi rasa syukur dan berterima kasih, menjadi esensi jawaban pertanyaan "dimana saya".

Apa yang harus saya lakukan?
Setelah mengetahu siapa dan dimana kita berada, pertanyaan yag terbesit adalah "apa yang harus saya lakukan?". Jawaban logis akan mengarahkan kita ke jawaban-jawaban yang mungkin sebagian banyak orientasinya ke materialisme dan duniawi. Namun, jawaban universal muncul dari ayat ke lima Q.S Al Fatihah. 
Iyyāka naʿbudu wa iyyāka nastaʿīn
Artinya : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan;
Tak diragukan lagi, tugas seorang makhluk yang diciptakan adalah untuk menyembah kepada yang menciptakannya. Dan hanya kepada penciptanya itulah, makhluk diperbolehkan meminta pertolongan. Esensi menyembah dan meminta pertolongan ini akan bergesekan dengan istilah musyrik, yang menyembah dan meminta pertolongan selain kepada Allah. Jelas, akan menjadi dosa yang amat besar, jika kita menyembah sesuatu selain dari Allah. 

Jika kita bergeser sebelum abad 6 silam, musyrik boleh jadi dilakukan sangat nyata dan jelas tampaknya. Kaum musyrikin menyembah patung, berhala, gunung, roh dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan magis. Untuk abad milenium ini, adakah bentuk-bentuk kemusyrikan yang sangat tipis maknanya dengan konsep lugasnya? Tentunya ada, konsep-konsep musyrik diwujudkan oleh syetan dalam bentuk-bentuk lain. Contoh sederhananya adalah ketika kita lebih mementingkan pekerjaan kita dibandingkan dengan menyegerakan shalat, ketika adzan terdengar, adalah salah satu contoh kecil bentuk kemusyrikan yang tidak nampak. Sepele memang, tetapi kalau ita runut garis substansinya, jelaslah bahwa pekerjaan  yang kita nomor satukan, pekerjaan yang kita agungkan, dan pekerjaan adalah sesuatu yang menakutkan bila tidak diselesaikan, lebih mendominasi dalam hati kita dibandingkan rasa menomor satukan pencipta, mengagungkan pencipta dan takut kepada pencipta. Dan menjadi wajar, jika perilaku tersebut orientasinya sudah mengarah ke musyrik.

Bagaimana caranya?
Setelah tahu tugas kita sebagai makhluk yang senantiasa dalam genggaman kasih dan sayang Allah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita melakukannya. 
Ihdinās ṣirāṭal-mustaqīm
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus,
Jalan yang lurus ini tentunya adalah jalan yang sudah diberi rambu-rambu oleh Allah SWT supaya kita tidak tersesat dan selamat sampai tujuan. Jelas, rambu-rambu sudah dipasang, tinggal bagaimana kita menaati rambu-rambu tersebut. Rambu-rambu tersebut sudah secara eksplisit dijelaskan oleh Rasulullah, yakni Al Quranul Kariim dan As Sunnah. Sederhananya, agar dapat menggunakan rambu itu secara baik, kita harus tahu makna rambu itu dahulu, yang tentunya analogi dengan mempelajari dan mentadaburi Al Quran dan As Sunnah. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, juga tidak lepas dari adanya taufik dan hidayah Allah. tanpa taufik dan hidayah-Nya jelas, mendapatkan siratal mustaqim adalah hal yang mustahil. Banyak ahli ilmu pengetahuan yang berasal dari orang kafir sebelumnya akhirnya "kembali" ke jalan yang lurus, dikarenakan mereka mendapatkan taufik dan hidayah-Nya. Bagaimana dengan kita yang sudah terlahir dengan atribut muslim? Seyogyanya kita harus jauh lebih baik dari sekedar beratribut muslim, yakni berperilaku dan berbuat sesuai teladan rasul-Nya.

Apa reward dan punishment dari apa-apa yang sudah diperbuat?
Ṣirāṭal-ladzīna anʿamta ʿalaihim ġayril maġdūbi ʿalaihim walāḍḍāllīn
Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat.
Bagi mereka yang telah berada dalam jalur benar, tentunya include ke dalam orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Dan siapakah orang yang dimurkai dan tersesat? Tentunya bukan kita sebagai umat Rasulullah Muhammad SAW, mereka tak lain adalah kaum Yahudi (dimurkai) dan Nasrani (sesat).

Demikian secerca tabligh yang penulis dapatkan dari berbagai majelis ilmu, terkhusus majelis taklim yang membahas judul di atas secara eksplisit. Hikmah bagi kita semuanya, adalah ketika kita sedang tak tahu arah lagi, apa yang harus kita lakukan, dan seolah kehilangan jatidiri, makan kembalikanlah pada jawaban-jawaban tiap ayat Al Fatihah ini. Penulis pun merasa belum sepenuhnya mengamalkan surah yang sering kita baca minimal 17 kali dalam sehari tersebut. Setidaknya dengan saling mengingatkan dalam kebaikan akan membuat kita akan tetap rapat dalam barisan baik akidah ataupun ukuwah. 
Semoga kita terus dalam lindungan dan rahmat Allah SWT. Rabbaana aatina fiddunya hasanah wafil aakhirati hasanah, waqina adzabanaar. Aamiin ya Raabbal 'alamin/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)