Senin, 25 Maret 2013

Resign

http://info.shiftelearning.com
Resign, mungkin adalah sebuah kata yang tepat menggambarkan diri saya pada tanggal 16 November 2012. Dalam bahasa Indonesia mungkin dapat diartikan sebagai berhenti dari suatu pekerjaan dan meninggalkan tempat kerja tersebut. Kata tersebut juga merupakan sebuah keputusan bulat dalam hati saya saat itu dan mungkin akan menjadi tonggak atau momentum, entah momentum untuk menyesal atau momentum untuk bangkit, yang pasti itu adalah momentum yang sangat mempengaruhi hidup saya selanjutnya. Sebuah keputusan yang mungkin bisa jadi disayangkan oleh banyak orang-orang terdekat saya, termasuk ibu dan adik-adik saya.

Di entri ini saya hanya ingin bercerita, bagaimana saya bisa mengambil keputusan setragis dan sekrusial itu di lain sisi, perusahaan menawarkan perpanjangan atau untuk tetap bekerja di sana. Sebelumnya, saya memang sudah mendapat kontrak yang cukup panjang hingga satu tahun untuk bekerja di situ plus satu bulan perpanjangan karena ada proses hand over yang perlu dilakukan. Ya, sebagai wujud dedikasi saya kepada perusahaan, tentunya saya tidak ingin mengcewakan di pengujung karir saya di situ. Lagipula, nuansa yang serba ramah yang dibangun di perusahaan itu sudah sangat membantu saya dalam menikmati pekerjaan itu, meski kadang harus face to face dengan client perusahaan tersebut yang serba galak dan tidak sabar. OK, saya tidak akan membahas itu. Saya hanya ingin berbagi tentang kata tanya why, yang sering dilontarkan orang lain pertama kali mendengar kabar mendadak tersebut.


Entah setan jenis apa yang menyurupi saya hingga detik ini, sehingga saya mungkin berpikir jauh dan berbeda dengan manusia kebanyakan, apalagi orang-orang yang satu etnis dengan saya (kebetulan saya etnis jawa, tulen jawa dwipa). Menurut saya, kebanyakan orang berpikir bekerja menjadi pegawai dan karyawan tetap sangatlah nyaman, enak dan tak beresiko besar. Ya, itu sangatlah benar dan tepat adanya. Bahkan pemikiran itu sudah saya persiapkan matang sejak saya menginjak usia 18 tahunan dimana saat itu saya juga akan lulus dari SLTA. Saya ingin, setelah lulus kuliah nanti, saya dapat bekerja di perusahaan A, kalau tidak ya B, semisal yang lain saya juga tak apa yang penting punya embel-embel BUMN, swasta bonafit atau apalah, yang penting saya bisa mengecek rekening saya tiap awal bulan guna melihat saldo tabungan saya di sana.

Kecelakaan pun terjadi saat saya kuliah. Mungkin saya boleh berkata "kecelakaan" karena ini mungkin sesuatu yang tidak saya harapkan sebelumnya. Saya mulai aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi kemahasiswaan jauh berbeda dengan kecenderungan saya saat di SMA yang lebih menonjolkan daya logis saya dan mungkin predikat cupu dan kuper pantas melekat di diri saya saat itu. Kegiatan dan organisasi menjadikan saya lebih "bahagia" saat itu, dan selalu berandai ingin memiliki kehidupan selanjutnya dimana saya bisa lebih "leluasa bergerak" dan "enjoy", meski terbatas aturan juga. Nah, semenjak saya dipakaikan toga pun saya merasa risih, takut saya tidak bisa membawa nama almamater ke dunia industri dan akhirnya saya memutuskan bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Beralih ke sekarang, mengapa saya lebih condong mengambil hal berresiko ini, padahal ada sesuatu yang sangat nyaman tapi ditinggalkan? Mungkin seribu alasan aneh akan timbul di sini dan pembaca budiman bisa jadi "bertanduk" apabila membaca tulisan ini. Hehe. Alasan dangkal saya mengambil "zona perang" di sini, adalah saya merasa hidup saya di dunia ini sangatlah singkat, kata orang jawa; "urip pindha mampir ngombe", yang berarti hidup ini bagai mampir minum saja. Ya sangat singkat, saking singkatnya kita mungkin sering berkomentar, kok sudah jumat lagi ya, kok sudah akhir bulan saja ya, dan sebagainya. Nah, singkatnya hidup ini akan semakin terasa pendek (sudah singkat, pendek pula), jika kegiatan kita hanya diisi oleh kegiatan yang monoton dan rutin. Nah, yang merasa kerja di kantoran pasti mulai tersungging, hehe. Santai saja pak bu, saya pun pernah mengalaminya kok. Anggap satu hari, waktu kita tidak tidur adalah 17 jam, dan satu minggu 7 hari, sedangkan kita bekerja 8 jam dalam jangka waktu 5 hari per minggu. Jika kita ibaratkan hidup itu adalah garis waktu, maka anda akan mewarnai sepertiga garis itu dengan warna yang sama, dan sisanya warna lain. Kalaupun, sepertiga yang saya maksud itu bercorak, tetapi coraknya tidak begitu kontas, alias gradasi naik turun dengan tone yang terbatas. Mungkin itu yang saya pikirkan, bagaimana saya mengubah warna monoton yang mendominasi sepertiga garis itu menjadi warna-warna yang sangat banyak dan tentunya itu akan lebih menarik dan berkesan. If you know what I mean, mungkin itu adalah alasan kuat seorang adventurer sejati biasanya lebih suka berpetualang, berjalan kaki, naik gunung, tinggal bersama street people dan sebagainya. Bukan berarti saya mengiginkan kehidupan seperti itu, tetapi saya lebih cenderung bagaimana saya merasa hidup ini jauh lebih berwarna dan lebih jauh semoga lebih bermakna.

Sekali lagi saya tidak ingin merendahkan siapapun di sini, karena semuanya sudah ada bagiannya, tinggal bagaimana memerankannya, tapi bagi saya, pastikan yang monoton dan rutin itu bukan jatah saya! Hehe. Selanjutnya saya ingin berbagi, bahwa saya orang yang cenderung selalu ingin out the box! Entah, itu memang saya dari sejak kanak-kanak dulu inginnya selalu ingin menjadi yang berbeda, ketika teman-teman saya lebih memilih power rangers merah, hitam, biru saya malah memilih jadi si Alfa (if you know, hehe). Dan ini mungkin berlanjut hingga sekarang dan menjadi pola pikir yang tertanam dalam dan mungkin susah dicabut, bahwa saya harus menjadi yang "bukan biasa-biasa saja", kalau jadi artis, mungkin BBB-lah istilahnya. Hehe. Out the box ini sudah menjadi kata modern dan keren saat ini, tapi saya lebih senang dengan istilah nyleneh bin edan! Ya, edan, karena menurut saya seuatu yang tidak edan tidak akan menghasilkan perubahan, percaya? Buktinya, tidak edan apa kalau bohlam lampu di atas anda saat ini adalah hasil ratusan kali percobaan edan dari seorang ilmuwan. Nah, dengan keluarnya saya dari sesuatu yang mengikat, memungkinkan saya bisa jadi lebih edan dalam berekspresi, termasuk berekspresi di tulisan ini. Hehe. Apapun ekspresinya, saya tak mau jabarkan di sini, karena saya takut ide saya dicontek. Kidding. Saya juga memiliki jatah waktu 24 jam dimana sepertiganya bisa saya mainkan sesuka hati, bukan dimainkan orang lain (sesuka hati juga). Kalaupun saya memiliki ide, saya tak segan untuk mewujudkannya, tak terhalang waktu, tak terhalang bentrok tugas lain, ataupu terhalang kebijakan dan wewenang atasan.

Ada yang mau bertanya? Yap silakan! Bagaimana dengan kebebasan finansial anda, dengan mengundurkan diri dari suatu jabatan, praktis Anda tidak memiliki pegangan finansial yang tetap dan siap mendukung Anda bila sewaktu-waktu Anda "terjatuh". Menurut saya, uang tidaklah penting, ya tidak penting tetapi POKOK! Hehe. Memang, uang akan dapat mengangkat derajat Anda di era kapitalis seperti ini dan konsekuensi logisnya, Anda harus memilikinya, bila perlu yang banyak. Jika Anda menjadi pegawai, cukup Anda menunggu dan antre saja di depan ATM sampai tanggal gajian, uang akan datang kalau tidak terlambat dikirm. Ketika, Anda tidak memiliki model pendapatan seperti itu, ya konsekuensinya adalah berwirausaha jika tidak mau menjadi pegawai atau karyawan. Jangan sampai menjadi pengangguran, karena orang-orang menganggur hanya akan menghabiskan jatah beras nasional di Bulog, tanpa menaikkan pendapatan perkapita negara ini, dan secara secara tidak langsung mereka menyumbang dosa untuk negara ini dalam skala nasional. Camkan itu! Hehe.

Fokus saya di sini adalah, bagaimana agar dapat tetap memiliki kebebasan finansial dengan kebebasan waktu secara bersamaan. Kalau motivator-motivator sering bilang ini adalah kuadrannya para pengusaha. Saya sih, kurang setuju membagi-bagi manusia dalam kuadran, memangnya objek praktikum sample populasi apa?! Hehe. Bukan itu yang saya maksudkan, tetapi saya ingin lebih menekankan, kalaupun kita berjuang ekstra untuk kebebasan finansial, pikirkan juga untuk hak-hak Anda sebagai makhluk hidup, tepatnya makhluk hidup manusia! Ya, sebagai manusia! Anda butuh makan teratur, tidur yang cukup, bergembira, berwisata, mengembangkan bakat, bernyanyi, berobat, bercinta dan sebagainya. Terkadang, saya heran dengan beberapa orang pegawai yang saya lihat, sangat "mencintai" pekerjaan, lembur hingga bermalam, anak istri ditinggalkan, makan diterlambatkan, shalat diakhirkan, hanya demi kata profesionalitas, lantas bagaimana dengan kebebasan hak hidup. Nah, paragaraf ini menyinggung saya untuk mencari strategi, bagaimana membagi waktu 24 jam ini agar tiap jam bahkan tiap detiknya memiliki warna dan makna yang beraneka rupa, bahkan bermanfaat lebih. Strategi itu akan sangat sempit alternatifnya jika Anda masih terikat dalam suatu scope yang menguasai hajat hidup Anda, apa itu? Ya perusahaan atau instansi yang memekerjakan Anda. Karena, mau tidak mau, pertaruhan profesionalitas yang diversuskan dengan gaji yang mendongkrak saldo rekening Anda tiap bulan adalah halangan dan hambatan besar Anda bisa lebih memiliki strategi mewarnai hidup Anda.

Dari alasan di paragaraf sebelumnya memotori dan menarik saya untuk segera menuju gerbang keluar perusahaan atau instansi dan saat itu pulalah, niat untuk MEMBAKAR KAPAL membesar sebesar-besarnya. Strategi pertama agar saya tak akan menoleh ke belakang lagi dan menyesali apa yang sudah terjadi. Bakar kapal, bakar sekalian pelabuhannya (Eh, jangan ding, nanti malah dilaporkan ke pengadilan sama PT Pelni, hehe), adalah sebuah keadaan yang memungkinkan saya atau mungkin Anda agar tidak setengah-setengah untuk berpindah dan berganti haluan menjadi seorang yang memiliki banyak pilihan crayon aktivitas untuk buku gambar kehidupannya. Berganti haluan pula menjadi orang yang siap bermanfaat bagi orang-orang yang tak seberuntung kita. Memiliki kebebasan waktu mutlak, dengan kendali penuh di tangan saya, saya merasa inilah saatnya mengubah diri saya sendiri, dari seorang yang hanya duduk di depan meja kerja menjadi seorang yang banyak duduk dengan di depan banyak orang. Dari seorang di zona nyaman, menjadi seorang di medan tempur. Penuh strategi, penuh relasi, penuh komunikasi, penuh silaturrahmi dan penuh tahabul ilmi.

Momen itu juga berhimpit dengan tanggal 1 Muharam 1433 H, dan sepertinya sangat pas sekali jika dianalogkan dengan "Hijrah" yang menjadi peristiwa penting sejarah umat Islam. Dengan begitu, saya tak ragu-ragu untuk "berhijrah" kali ini. Hijrah bukan dari tempat kerja A ke tempat kerja B, atau perusahaan X ke perusahaan Y, tapi lebih dari itu, yaitu hijrah dari dunia kepegawaian ke dunia kewirausahaan. Meninggalkan kenyamanan menuju ketidakpastian, melepaskan gaji untuk mencari laba, membuang kesempatan untuk masa depan pasti demi  dan merelakan status di mata masyarakat demi passion yang tak terbendung.

Yah, memang sangat menyakitkan di kala pertama kali harus melihat kembali ke belakang, melihat orang lain tak ambil pusing untuk membayar cicilan gadget atau motornya tiap bulan. Melihat santainya orang lain bersandar di belakang meja atau memakai kemeja atau kostum kebanggaan perusahaan. Tapi sakit itu tak lama lagi akan berubah menjadi sebuah kenikmatan. Nikmat dalam artian menikmati kondisi tersebut. Memulai sesuatu memang berat, tapi kalau tidak dimulai, lantas kapan berubah? Kapan berpindah? Kapan hijrah? Mungkin sebuah simpulan subjektif semata dari seorang "edan" dan "nyleneh". Namun, mau bagaimana lagi, manusia berbeda-beda termasuk pola pikirnya. Ada yang suka hidup teratur, flat dan suka di zona nyaman, ada pula yang petualang, fluktuatif dan suka tantangan, dan kalau saya pikir tak perlu salah menyalahkan, tak perlu juga saling serang opini, toh kita saling membutuhkan dan melengkapi.

Simpulan saya di entri kali ini cukup lugas dan terhenti untuk mengatakan bahwa saya pada tanggal itu telah membuat keputusan yang berujung momentum untuk berhijrah dan bergerak menuju "kata hati", tak ada lagi yang menghalangi, tak ada juga yang menghambat laju saya. Ingin rasanya momentum hijrah ini tak ingin terlewatkan begitu saja, dan mungkin entri ini menandai selfpromise saya yang sewaktu-waktu bisa mendidihkan semangat untuk tidak pernah mundur atau melihat ke belakang. Tulisan ini subjektif semata, dan tidak bermaksud untuk mengerdilkan atau menjustifikasi sepihak. Just share, just for writing!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)