Minggu, 10 Mei 2009

Berusaha Menjadi Kaya Raya...

Apa yang terlintas di benak kita jika mendengar kata di atas? Mungkin sebagian beranggapan terlalu materialistis atau beberapa yang lain mengatakan:"Kehidupan akhirat lebih penting!". Ehm,memang ada benarnya jika kita artikan demikian. Kita tidak boleh materialistis dan tidak hanya memikirkan dunia saja. Tapi apakah Allah sendiri melarang kita untuk menjadi seorang kaya raya? Bahkan Rasulullah Muhammad SAW sendiri adalah seorang pengusaha rangkap manajer yang kaya raya. Berkat kerja keras dan keuletan Beliau ,beliau bisa menjadi seorang pebisnis handal. Islam juga melarang umatnya menjadi seorang pengemis, seorang yang hanya mengadahkan tangannya menunggu belas kasihan orang lain. Tunggu dulu, pengemis bukan berarti dia harus berada di perempatan jalan sambil membawa kaleng bekas dan berpakaian compang-camping. Sekarang,wujud pengemis tidak hanya seperti itu. Sebagai contoh antara lain:peneliti perguruan tinggi yang berusaha mencari dana dari negara atau lembaga asing guna mengembangkan penelitiannya atau sekedar mencukupi kebutuhannya. Sungguh memilukan. Kajian ilmu pengetahuan dihambat oleh kekurangan dana dan harus "mengemis" kepada lembaga/negara asing. Lebih memilukan lagi adalah mahasiswa-mahasiswa yang mau disuap oleh pihak tertentu untuk melakukan demonstrasi kepada pemerintahan. Mungkin anda berkata "Itu bukan pengemis!". Bisa jadi ya. Tetapi seberapa persen anda yakin mahasiswa itu sepenuh hati melakukan demonstrasi tanpa ada "uang belas kasihan"? Satu lagi "pengemis" yang belum disebutkan yaitu seorang pemuda yang masih meminta uang atau harta dari orang tuanya walaupun dia bisa bekerja. Ini adalah salah satu fenomena di mana mental pemuda Indonesia yang miskin jiwa kewirausahaan dan berharap kejatuhan harta orang tuanya. Ironis sekali.
Memang zaman serba sulit dan kekayaan yang ingin dicapai membutuhkan jalan yang panjang dan usaha keras. Tapi, Allah sudah menyeru kepada umatnya untuk bekerja keras mencari rizki di bumi ini. Allah tidak menyukai orang-orang pemalas. Rasulullah pun menjadi seorang pengusaha kaya-raya tidak hanya karena kasih sayang Allah kepada utusannya. Rasulullah sebagai manusia biasa juga membutuhkan perjuangan keras untuk mencapai keberhasilannya. Berikut sekilas tentang keberhasilan karir Rasulullah.
  • Rasulullah pertama kali menjadi seorang "E" atau employee (pegawai) dari seorang saudagar kaya Siti Khadijah. Beliau adalah suri teladan yang baik di mana saja termasuk dalam hal pekerjaan. Dikisahkan beliau adalah seorang yang jujur dalam berdagang,tidak menyembunyikan kecacatan barang dagangan,tidak mengurangi timbangan dan pernah suatu ketika beliau tetap setia menunggu seorang pelanggan yang lupa datang untuk bertransaksi sampai berhari-hari lamanya. Ini merupakan bukti bahwa walaupun sebagai seorang "sales" bukan berarti menghambat diri untuk selalu menjadi seorang yang bisa berbuat lebih baik kepada "perusahaan".
  • Karena kejujuran dan cara berdagang yang yang disukai pelanggan ,maka Siti Khadijah mengangkat Rasulullah menjadi seorang manajer yang mengendalikan seluruh aktivitas bisnis Siti Khadijah. Sebagai seorang manajer,tindak-tanduk Rasulullah sangatlah terpelihara dan wajib kita teladani.Beliau berhasil mengembangkan usaha Siti Khadijah hingga usahanya terkenal di seluruh kota Mekah saat itu.
  • Setelah pernikahan Rasulullah dengan pemilik usaha beliau,Rasulullah merangkap menjadi pemilik selain menjadi seorang manajer. Bukan berarti karena sebuah pernikahan beliau dapat menjadi pemilik sekaligus pemimpin perusahaan,melainkan beliau sangat memiliki jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab penuh terhadap usahanya. Gaya kepemimpinan seorang Rasul kita ini menjadi acuan yang baik dalam memimpin sebuah organisasi. Setelah kepemimpinan beliau,perusahaan Rasulullah menjadi yang terkenal dan terkaya saat itu.
  • Kekayaan Rasulullah bukan berarti sebagai alat untuk bersenang-senang,melainkan dengan kekayaan itu Rasulullah menghabiskannya di jalan Allah untuk berperang dan berjihad. Bagaimana kehidupan Rasulullah setelah memiliki harta yang cukup banyak itu? Sederhana adalah kata yang tepat menggambarkan kehidupan Rasulullah. Harta benda beliau hanya digunakan untuk jalan Allah. Selain jihad, rasa sosial Rasulullah sangatlah besar. Begitu dermawannya Rasulullah sampai-sampai pada suatu hari beliau menawarkan kepada seorang peminta-minta untuk mengambil apa yang dia mau dari Rasulullah setelah empat hari berturut-turut peminta-minta itu mengemis kepada Rasulullah dan tepat pada hari keempat Rasulullah tidak mempunyai uang.
Dari sekilas kisah di atas sangat pantas jika mengatakan Rasulullah pun mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi kaya-raya. Seorang pegawai pun akan mencapai kekayaannya jika dia sungguh-sungguh dan bersyukur dalam menjalani pekerjaannya. Namun,sekali lagi kaya-raya yang diharapkan Rasulullah memberi hikmah kepada kita agar kita tidak miskin hati. Kaya raya adalah ketika kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada harta kekayaan kita yang berarti kita harus kaya hati dan selalu bersyukur terhadap kekayaan yang Dia berikan kepada kita baik kesehatan,Islam maupun Iman.
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur(Q.S Al Jaatsiyah:12).
Waalllahu alam bis sawwab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)