Kamis, 02 September 2010

Seni Bertahan Hidup

Ini yang mungkin saya alami juga sebagai seorang yang pas-pasan dalam pemasukan dan begitu banyak yang harus dianggarkan untuk kebutuhan. Maklum, sebagai mahasiswa perantau, dapat dibilang, uang saku yang dikirim tap bulan oleh orang tua tidaklah cukup untuk satu bulan. Kebutuhan begitu banyak, dan setelah saya hitung-hitung, ternyata saya setidaknya saya harus mengirit sampai sepuluh ribu rupiah per hari agar bisa makan di sebuah kota pinggiran dekat ibu kota provinsi. Kebutuhan untuk mencuci pakaian, kebutuhan mandi, pulsa, air, dan kebutuhan kuliah seperti alat tulis, fotokopi, printing dan sebagainya, mungkin itu yang menyebabkan saya harus berpikir ulang agar tidak sarapan selama tiga tahun saya kuliah.


Ingin rasanya meminta kiriman lebih dari kampung halaman, tapi saya merasa saya tak pantas seperti itu. Saya berpikir saya sudah cukup dewasa, dan tiga adik saya juga punya kebutuhan. Saya tak ingin beban seorang PNS golongan menengah dan seorang penajaja makanan di kantin sekolah bertambah, hanya karena saya kuliah di luar kota. Sekalipun saya kuliah di kota kelahiran, tak menutup kemungkinan biaya juga jauh lebih tinggi, karena saya juga harus bolak-balik naik bus oper dua kali plus ojek jika tidak mau mendaki bukit sejauh 800 meter, dan belum untuk berbagai atribut yang harus dibayarkan untuk kegiatan kemahasiswaan. Yang harus saya syukuri sampai saat ini adalah dari awal masuk sampai detik ini, belum se-sen pun orang tua saya keluarkan untuk membayar uang semesteran. Bersyukur, saya masih dapat mempertahankan GPA agar beasiswa dari kampus tidak tercabut bagaimanapun juga.

Ingin rasanya bisa bekerja part time, tetapi impian tersebut sepertinya saya harus tunda-tunda dulu mengingat jadwal kuliah dan tugas yang begitu padat dan mungkin saya ketakutan, saya tidak bisa istirahat sejenak atau belajar untuk keesokan. Sempat saya menjadi asisten praktikum dan honor yang didapat lumayan untuk menambal sulam utang-utang yang saya sendiri hampir takut menghitungnya. Utang yang mungkin dianggap tidak wajar bagi seorang mahasiswa. Nominalnya terlalu besar, dan semuanya keluar tidak untuk mentraktir teman satu kontrakan, ataupun pergi ke bioskop di akhir pekan. Ya, setidaknya untuk beli lauk untuk makan siang dan makan malam.

Ajakan teman-teman sekelas untuk wisata, setidaknya itu yang harus saya pikir ulang untuk ikut. Tak tahu lagi, mungkinkah ini yang harus saya ikuti? Sebagai orang yang tak ingin terkucilkan dan tidak dianggap sebagai bagian dari suatu kelompok, saya akhirnya menjadi ikan yang terbawa arus juga.

Saya juga berpikir, bagaimana saya nantinya, setelah utang menggunung tak karuan, dan itu harus dibayarkan. Memang tiap bulan, selama satu semester honor asisten dapat untuk menutup kekurangan semester kemarin. Namun semester ini saya tidak ambil job itu lagi, karena alasan tanggung jawab di organisasi kemahasiswaan yang saya pegang. Sebenarnya bukan alasan itu, job sebagai asisten praktikum sepertinya membuat saya harus mengulang mata kuliah lalu. Bagus sebenarnya menjadi asisten, sekalian belajar kembali. Namun, saya tipe orang yang selalu lebih maju daripada yang kemarin. Berbagai framework, bahasa pemrograman, DBMS dan konsep-konsep bisnis yang tidak saya dapati di kelas, itulah yang saya kejar sekarang. Dan akibatnya utang yang lalu menumpuk dan akhirnya tertanggung di bulan ini, tepatnya bulan Ramadhan di Agustus.

Saya berpikir, puasa tahun ini setidaknya harus menabung dua ribu rupiah tiap hari untuk menutup kekurangan. Namun, kalau dihitung, anak SD pun bisa berkata, tidak bakal cukup. Ya, memang, tapi daripada tidak sama sekali. Rencana itu sudah disiapkan, tetapi kenyataannya tetap saja saya seorang manusia, yang tidak bisa luput dari lalai dan lengah. Kalau makan saja tanpa jajan, rasanya ada yang kurang. Kalau tak mau pakai sandal yang lepas ikatannya, mau tak mau beli juga. Itu yang mungkin menjadi iblis tersendiri bagi perekonomian saya yang carut marut seperti ini.

Yah, di sela-sela serba sibuk dengan tugas, masih saja kepikiran, bagaimana mengembalikan lembaran-lembaran merah yang sudah saya pinjam. Tak mungkin berkata kepada orang tua seperti ini. Terlalu beresiko untuk membuat mereka malah sedih, padahal saya sendiri masih anteng-anteng saja menghadapi semua ini. Alasan utamanya, saya masih kuat untuk bekerja dan apabila benar-benar saya membutuhkannya, saya akan lakukan pekerjaan apapun yang masih halal di depan saya. Dan saya tak pernah berpikir, Allah akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Suatu saat nanti, rejeki dan alur-alurnya akan ditunjukkan olehNya, suatu saat, di suatu tempat.

Apakah ini cobaan orang dewasa, atau orang miskin? Tak tahu pasti,  pendapat saya, ini adalah seni untuk meperjuangkan hak, yang dinamakan hak untuk hidup. Hampir tertawa saya mendengarnya, ya memang itulah yang mungkin dapat diibaratkan sebagai sebuah perjuangan yang diukir dan diwarnai dengan berbagai problematika yang tak kunjung usai, dalam kehidupan. Ya dalam kehidupan..
(to be continued..)

2 komentar:

  1. ya ampun yar, jng segituny juga ahhh.

    BalasHapus
  2. cobaan Allah nggak mungkin ngelebihin batas umatnya. Kuat iar!

    BalasHapus

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)