Rabu, 08 Oktober 2014

Bekerja Bukan untuk Pensiun

http://thewardrobedoor.com/
Salam untuk kita semua, di manapun sahabat readers berada. Postingan kali ini saya tulis berkenaan dengan suatu tragedi yang saya alami, hmm, iya bisa saya bilang tragedi, jika menurut saya itu bukan hiperbola alias lebay. Hehe. Ya, malam itu, ponsel saya bergetar tanda ada sms masuk dan kulihat nama adik saya di layar ponsel. Mungkin, isi pesan yang sudah biasa, sudah makan, shalat, sedang apa dan sejenisnya yang sebenarnya itu pertanyaan dari Ibunda tercinta di kampung halaman. Namun kali ini, pesan yang saya baca malam itu berbeda dengan pesan-pesan biasanya.

Malam itu seketika mood saya goncang sesaat setelah membaca sms yang ternyata berasal dari adik saya yang isinya adalah Ibu saya menyuruh saya untuk daftar CPNS online, apabila saya tidak menuruti maka Ibu saya akan marah. Ya, begitulah kira-kira isinya. Pertama saya sedikit tidak menganggap serius, dengan aksi berikutnya saya hanya membalas pesan itu dengan suatu pesan yang tidak mengarah ke sana. Namun, balasan sms yang kudapat adalah "bagaimana? Jadi kan untuk daftar?".


Ya, semenjak kejadian itu saya mem-flashback  apa yang telah saya jalani selama ini, apakah ada yang salah, selama dua tahun belakangan ini, sehingga Ibunda saya, satu-satunya orang tua yang tersisa sampai detik post ini saya tulis, kehilangan kepercayaan terhadap anak pertamanya yang mungkin dapat dilihat sekilas "belum memiliki apa-apa" dengan usia yang sudah menginjak 24 tahun. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, beliau adalah orang yang paling support dengan apa yang saya pilih dan yang akan saya jalani, terlebih jika itu menurut saya dan beliau baik. Saya dibebaskan dengan segala tuntutan ini itu, bagaimana saya akan hidup setelah saya lepas dari pendidikan formal.

Diwisuda dengan IPK yang memuaskan, menjadi tuntutan berat seseorang untuk mengabdikan diri dan berkarya setinggi mungkin, berkarir sehebat mungkin dan harus menunjukkan strata sosial kelas wahid tentunya dalam kurun waktu yang tidak lama. Ya, itu adalah pemikiran rata-rata lulusan, sedangkan saya tidak pernah berpikir untuk menjadi rata-rata. Hehehe. Mencela? Tidak, saya tidak mencela, saya hanya bercanda, hehe...

Okay, back to topic. Rasa-rasanya itu yang kira-kira dipikirkan oleh orang tua kita, apabila anaknya tidak mencapai kemajuan maksimal yang diharapkan, maka jalan yang terbaik adalah menggugurkan passion nya kemudian mengorbankannya demi sebuah kehidupan ideal, ideal di mata masyarakat kini tepatnya. Karena hidup yang normal dan ideal disini berarti menyelasikan pendidikan formal setinggi mungkin, lalu bekerja di perusahaan yang bonafit atau BUMN, Lembaga Pemerintahan, (dan tentunya) atau Pegawai Negeri Sipil. Kemudian sambil bekerja, meneruskan pendidikan yang lebih tinggi seraya berharap ada kenaikkan jabatan/pangkat demi kelangsungan karir yang lebih cemerlang. Setelah mapan (bisa makan dan punya papan), kemudian melepas masa lajang, dan memulai babak baru, hidup dengan "orang lain" dan create new family,  entah 3 anggota, 4, 5 terserah asal bukan Famili 100 aja, (kebanyakan). Lalu setelah hari tua, dapat beristirahat dengan tenang sambil menikmati masa-masa pensiun dan tentunya duitnya (kalau yang punya dana pensiun).

Iya, begitulah kira-kira hidup yang menyenangkan. TAMAT. Wait, ini tulisan kok selesai gitu aja, kagak ada esensinya?! -- Hehe. Maaf, tulisan ini akan baru dimulai. :)

Saya Bekerja untuk Hidup bukan untuk Pensiun
Menurut Saya ada sebuah kesalahan besar ketika kita memutuskan untuk mengambil suatu profesi, atau pekerjaan dimana kita melihatnya hanya sebagai "penjaga diri" kita di masa kini dan di masa depan. Ketika Ibu Saya menyuruh Saya melepas semua bisnis yang tengah Saya bangun, dan mengarahkan diri ke sebuah (yang sering dibilang) "kepastian hidup", di sana tergambar jelas bahwa Ibu Saya menginginkan saya hidup dengan bahagia dan normal layaknya orang-orang kebanyakan. Bukan sesuatu yang salah, bahkan Saya amat sangat bersyukur masih memiliki orang tua yang masih hidup yang sebegitu sayangnya kepada saya. Namun, dibalik itu, ada tugas Saya yang lebih bijaksana dalam menyikapi hal ini, yakni menjelaskan. Iya, menjelaskan, mengapa dan bagaimana Saya "sampai seperti itu".

Jeda sejenak >> Yang pasti saya tidak pernah menyalahkan orang yang bercita-cita menjadi pegawai/karyawan. Ingat dan camkan itu!! hehe. Maaf, soalnya terkadang tulisan seperti ini dicap sebagai tulisan sinis bin jealous "seorang pesakitan". Wiraswasta yang dianggap sebagai kumpulan orang gagal dalam seleksi personalia instansi yang coba ingin menggapai sukses dengan cara lain. Statement terakhir adalah sebuah statement yang pernah saya baca di suatu comment media sosial. Saya tidak menyalahkan, saya pun juga tidak ingin beradu argumen, soalnya apa sih yang harus diperdebatkan? Toh, Almarhum Ayah saya juga seorang PNS dulunya, adik kedua Saya juga.
<< Selesai Jeda

Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi mengapa saya menolak matang-matang permintaan Ibu Saya. Saya tidak tertarik dan yang kedua saya yakin saya tidak akan bahagia di sana. Loh, kalau nggak dicoba, gimana bisa tau?? Yup bener sekali. Dan kembalilah ke alasan pertama. Sebuah pemikiran aneh (yang boleh dikata) ketika saya berstatement seperti ini : "Saya bekerja untuk hidup bukan untuk pensiun". Dengan lekas-lekas Anda akan berkata : Nah tuh, kalau nggak kerja nggak bakal hidup lah! Hehe.

Kalau Anda memaknai hidup itu hanyalah sebuah eksistensi di dunia ini yang harus dipertahankan, itu benar tapi ada yang kurang menurut saya. Kira-kira saya menjelaskannya seperti ini. Sebuah statement dari Buya Hamka, yang sejujurnya saya kurang sreg dan merasa itu tidak elok, tapi ada benarnya juga.

"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja". 

Nah itu kiranya yang mendasari saya mengatakan hidup bukan hanya sekedar eksistensi yang harus dipertahankan. Ada hal-hal lain yang menyertai Anda, ada hal-hal lain yang memerlukan eksistensi Anda, dan yang paling lugas, Tuhan menaruh Anda di dunia ini, untuk apa?? Dari situ akan muncul pemikiran bahwa, tidak selamanya bekerja itu hanya mendapat gaji atau untung, tidak selamanya bekerja itu rutinitas penghapus kemiskinan, tidak selamanya bekerja itu untuk memperbaiki kualitas hidup, dan tidak selamanya bekerja itu untuk pensiun. Lebih dari itu semua, bekerja adalah wujud ibadah kepada-Nya. Urusan rezeki dan hasil? Sudahlah jangan terlalu khawatir.

Khawatir kalau tidak bisa makan? Sama saja Anda tidak percaya Dia bisa saja menjatuhkan daging segar di depan Anda?

Khawatir dijadikan bahan perbincangan (negatif) orang? Buktikan!

Khawatir tidak bisa menikmati masa tua? Apakah Anda tidak percaya takdir mati muda? Nikmati muda Anda!

Khawatir tidak memiliki pegangan hidup? Yang ngasih nafas Anda itu siapa?

Ya, kekhawatiran, semuanya memang berawal dari kekhawatiran. Dan kekhawatiran itu bisa saja bermula pada Anda tidak mempercayai-Nya. Memang kita bisa berrencana, kita bisa membuat mimpi-mimpi, tetapi jika proses yang Anda lalui tidak menjadikan Anda menjadi makhluk yang beribadah kepada-Nya, untuk apa? Ketika Hajar ditinggal Ibrahim di sebuah lembah tandus, dalam keadaan melahirkan, dia mencari air bolak balik Safa Marwa, tapi ternyata zam-zam terbit di kaki Ismail. Usaha yang kita lakukan selama itu baik, selama kita sungguh-sungguh, selama kita percaya akan kebesaran-Nya, hasil dan balasannya terbit dalam bentuk kejutan, tanpa disangka dan tanpa diduga kapan dan dimana.

Itulah mengapa terkadang saya miris jika ada orang yang tidak lolos menjadi PNS merasa itu adalah akhir dunianya. Miris jika ada orang berkata; "ada ya yang sekolah tinggi-tinggi, ternyata akhirnya cuma ....., ". Sebuah paradigama yang saya boleh berasumsi salah kaprah. Setiap orang melalui proses hidupnya, sudah disiapkan segala yang terbaik untuknya dan sudah disiapkan segala hal yang menyertainya.

Dan Akhirnya Saya ingin Hidup untuk Terus Hidup
Almarhum Ayah saya pernah menunjukkan sesuatu saat di hari raya Idul Fitri kala itu. Beliau berkata; tidak semuanya kan bisa menikmati lebaran berkumpul dengan keluarganya. Yang harus kejar setoran, yang harus jagain toko majikannya, yang masih harus jagain portal, mereka tidak bisa hari raya ini. Intinya, segala sesuatu tidak bisa kita pukul rata dengan sebuah parameter tertentu. Semuanya melewati proses dan siklusnya sesuai dengan rencana terbaik-Nya. Dan tentunya SYUKUR terkadang adalah sesuatu yang langka kita temukan di hati kita saat semuanya berjalan dengan normal dan menyenangkan.

Pekerjaan yang sudah sampai mengantarkan pada tingkat kenyamanan dan kemapanan yang cukup jangan sampai membutakan diri, meninggikan arogansi, menyepelekan orang lain, menaikkan bahu dan membusungkan dada. Cukuplah, itu menjadi wujud pengabdian dan pengorbanan diri kita sebagai makhluk yang sudah tercipta dengan segala atribut yang luar biasa diberikan-Nya. Karena tak ingin pengabdian itu hanya sebatas mencukupkan diri, tak ingin perjuangan tersebut hanya sebatas memapankan duniawi pribadi, upaya untuk membahagiakan dan berbuat baik kepada sesama akan timbul.

Hasrat yang kemudian tidak menjadi salah adalah ketika kita berjuang dan saling memperjuangkan bersama manusia-manusia lain, manusia-manusia yang membutuhkan, manusia-manusia yang sebenarnya sama saja seperti kita, tetapi sedikit tidak beruntung. Hati berkasih, tangan bederma, pikir menjelma sebagai upaya kritis menciptakan kehidupan yang baik bagi kepentingan banyak, bukan pribadi atau golongan.

Saya ingin bekerja untuk hidup, dan ingin bisa terus hidup, meski saya sudah tidak lagi ada di permukaan tanah.

Wallahu alam bissawwab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda
(Send Your Comment)