Halaman

Tampilkan postingan dengan label enterpreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label enterpreneurship. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 September 2014

Berbisnis IT (2)

Melanjutkan posting sebelumnya (Berbisnis IT (1)), yang bercerita, why and why kita harus berbisnis (secara umum), posting kali ini akan spesifik pada bidang teknologi informasi (IT). Wait, jangan berasumsi yang tidak-tidak dulu. Banyak teman berkata kepada saya, membaca tulisan saya itu bagaikan diintimidasi. Hehe. Iya gitu? Mungkin. Karena tulisan saya beginilah adanya, tidak menukak nukik mencari dan menyasar target penggemar. Hanya berbagi, apa adanya. Tidak lebih.

Bukan suatu keharusan apabila Anda sebagai alumni/mahasiswa yang nyangkut di jurusan informatika atau IT membuka bisnis yang berhubungan dengan IT. Mengapa saya katakan "nyangkut"? Karena pada hakikatnya jurusan ini kebanyakan bukan jurusan yang sreg di hati, iya kan ? Ngaku saja. Hehe. Kecuali kalau memang yang bener-bener holik sama yang namanya komputer, mereka bisa enjoy dengan bidang ini. Okay, back to topic! Iya bukan suatu keharusan kita harus melanjutkan kompetensi di dunia kuliah ke dunia kerja. Bahkan tidak sedikit kan, yang pekerjaan setelah lulus itu sangat jauh dengan apa yang dipelajari di bangku kuliah. Jangan khawatir, saya tidak membahas itu.

Minggu, 17 November 2013

Berbisnis IT (1)

Sekilas Berbisnis - Berwiraswasta
Menulis artikel tentang bisnis IT kali ini, setidaknya sedikit banyak menunjukkan seberapa jauh pengetahuan dan pengalaman saya di bidang ini. Yang saya bagikan di tulisan ini adalah secuil pengetahuan yang mungkin tidak sebanyak apa yang sahabat pembaca dapatkan. Well, saya mencoba mengulas sedikit yang berkenaan dengan bisnis IT.

Okay, why bisnis IT? Tak ada bisnis lain kah yang lebih mudah, murah dan menjanjikan? Kalau di jawab , pastinya ada dan banyak! Ya, mungkin Anda bisa melihat banyak pengusaha-pengusaha nasional yang sukses berkat penjualan produk, kuliner, fashion, properti, transportasi dan lainnya. Ya, paling tidak mereka sudah dikenal oleh banyak orang. Sedangkan saya? Hehehe. Berani-beraninya menulis begini, dengan pengalaman yang masih sejumput jerami.

Mengapa bisnis IT? Karena saya lulusan jurusan IT! Hahaha. Bukan, bukan itu semata. Saya akan memberikan selayang alasan mengapa bisnis ini juga tidak boleh dipandang sebelah mata oleh para ahlinya. Sebelum bergerak ke IT, saya ingin membahas dulu, mengapa sih kita harus berbisnis? Ya, pertanyaan itu sering saya dengar atau terlontar oleh orang-orang di era serba resesi seperti sekarang. Jawabannya simple, untuk mendapatkan UANG! Hahaha. Lah, mungkin sedikit materialistis ya. Namun, bagaimana lagi, hidup di suatu sistem yang dinamakan kapitalis seperti ini, Anda akan "tenggelam" di dasar kesengsaraan kalau tidak punya cukup uang. Wah, malah makin menjauh dari topik (nanti saya juga posting pengetahuan saya tentang kapitalisme). Kita kembali lagi. Iya, pasti tujuan utama berbisnis adalah mendapatkan penghasilan, dari penghasilan itu terserah mau kita apakan selanjutnya.

Senin, 25 Maret 2013

Resign

http://info.shiftelearning.com
Resign, mungkin adalah sebuah kata yang tepat menggambarkan diri saya pada tanggal 16 November 2012. Dalam bahasa Indonesia mungkin dapat diartikan sebagai berhenti dari suatu pekerjaan dan meninggalkan tempat kerja tersebut. Kata tersebut juga merupakan sebuah keputusan bulat dalam hati saya saat itu dan mungkin akan menjadi tonggak atau momentum, entah momentum untuk menyesal atau momentum untuk bangkit, yang pasti itu adalah momentum yang sangat mempengaruhi hidup saya selanjutnya. Sebuah keputusan yang mungkin bisa jadi disayangkan oleh banyak orang-orang terdekat saya, termasuk ibu dan adik-adik saya.

Di entri ini saya hanya ingin bercerita, bagaimana saya bisa mengambil keputusan setragis dan sekrusial itu di lain sisi, perusahaan menawarkan perpanjangan atau untuk tetap bekerja di sana. Sebelumnya, saya memang sudah mendapat kontrak yang cukup panjang hingga satu tahun untuk bekerja di situ plus satu bulan perpanjangan karena ada proses hand over yang perlu dilakukan. Ya, sebagai wujud dedikasi saya kepada perusahaan, tentunya saya tidak ingin mengcewakan di pengujung karir saya di situ. Lagipula, nuansa yang serba ramah yang dibangun di perusahaan itu sudah sangat membantu saya dalam menikmati pekerjaan itu, meski kadang harus face to face dengan client perusahaan tersebut yang serba galak dan tidak sabar. OK, saya tidak akan membahas itu. Saya hanya ingin berbagi tentang kata tanya why, yang sering dilontarkan orang lain pertama kali mendengar kabar mendadak tersebut.

Rabu, 17 Juni 2009

Employee or Entrepreneur? ("Em o En")

Sumber : http://trabzongg.org
Pernah suatu ketika saya mengobrol dengan seorang mahasiswa jurusan teknik seperti saya saat makan malam di suatu warung nasi. Dia bercerita bahwa dalam waktu dekat ia akan melaksanakan gladi di suatu perusahaan. Saya senang mendengarnya dan kemudian saya bertanya kepadanya. "Ehm, setelah mengikuti gladi tersebut, apa yang kamu harapkan?" Dia menjawab dengan penuh harapan "Ya semoga saja saya bisa diterima di perusahaaan X dengan mudah kemudian bekerja di situ sebagai pegawai dengan penghasilan tinggi". Ya, mungkin terdengar sebagai ucapan realistis bagi seorang mahasiswa dan mungkin itu kata-kata default dari sebagian besar mahasiswa.

Ehm, dari cerita di atas tadi mungkin dapat kita tangkap sebuah pelajaran bahwa mahasiswa Indonesia saat ini hanya ingin mengejar suatu mimpi menjadi seorang pegawai. Salahkah? TIDAK! Menurut saya. Asumsikan jika seorang mahasiswa yang baru lulus kemudian dia langsung mendapat pekerjaan setelah mereka melamar. Alangkah senangnya mendapat gaji yang pertama. Sekilas terlihat sangat menyenangkan jika hal seperti di atas terjadi pada setiap mahasiswa termasuk saya. Mendapat gaji pertama, fasilitas, asuransi dan lain sebagainya. Dengan modal pikiran dan kerja keras tak ayal kita mendapatkan itu semua dengan mudah.

Namun, apakah sebagai seorang yang sudah menghabiskan waktu lebih dari 3 tahun untuk belajar di bangku perkuliahan dan mendapatkan ilmu yang sudah lebih dari ilmu yang dipakai di dunia kerja hanya bisa menolong dirinya dari jeratan masa depan suram? Bagaimana dengan orang lain? Orang sekitar kita? Masa bodohkah? Mereka tidak membantu saya, haruskah saya membantu mereka? Pertanyaan yang sulit?
Era globalisasi ini menuntut kita semua sebagai kaum cendekia muda untuk menerapkan "One Win All Win". Mungkin tidak sepenuhnya benar jika kita dipaksa untuk bersaing dan saling sikut demi memenangkan kompetisi. "One Win All Win" berarti kita berusaha untuk membagi apa yang kita raih entah itu ilmu, kesempatan atau harta kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan. Bagaimana caranya?

Ubah paradigma! Pandangan ke depan sebagian besar mahasiswa Indonesia adalah menjadi "Em" atau employee. Sudah cukup puas jika sudah mendapatkan gaji dari apa yang mereka kerjakan sebagai pegawai. Bahkan naik jabatan adalah cita-cita wajar jika prestasi kerja memiliki nilai 10. Paradigma ini adalah paradigma yang tidak keliru tetapi memiliki dampak yang cukup besar. Bayangkan tiap tahun Indonesia harus menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang begitu banyaknya dan tidak mendapatkan profesi hanya karena mereka kalah bersaing dengan yang lain. Angka pengangguran meningkat, bukan tak mungkin.

Pandangan yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa Indonesia setelah lulus adalah menjadi "En" atau entrepreneur. Tunggu dulu, entrepreneur tidak harus memiliki modal besar kemudian mendirikan perusahaan dan bisa meyerap tenaga kerja. Adalah salah jika anda memandang sempit seperti itu. Jiwa entrepreneur tidak harus terhambat oleh masalah modal. Ambil contoh. Seorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap di suatu perusahaan kemungkinan akan memiliki pendapatan lebih dan akan sisa setelah dikurangi kebutuhannya. Sisa inilah yang harus dimanfaatkan optimal sebagai sebuah peluang bagi seorang bermental pengusaha. Seorang pengusaha tidak memandang jumlah kecil pada modal untuk membangun usahanya. Tilik kisah seorang Bill Gates yang mampu mendirikan perusahaan raksasa hanya dengan modal kecil pinjaman temannya, karena pamannya sendiri tidak meminjaminya karena alasan ketidakjelasan masa depan perusahaan. Contoh lain yang mungkin bisa dilakukan adalah seperti yang membuat suatu grup untuk membangu sebuah proyek. Kumpulan mahasiswa yang intelek adalah modal yang lebih besar dari uang. Bahkan perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat sering memakai jasa mahasiswa-mahasiswa dalam pembangunan proyek yang berasal dari perguruan tinggi selain mereka memiliki tim dari perusahaan. Bagaimana dengan Indonesia? Peluang bagus jika mereka memiliki ide lebih kreatif dibandingkan orang dalam perusahaan. Ini memungkinkan juga suatu proyek dibangun dengan melibatkan masyarakat sekitar dan hal ini berdampak kepada penyerapan tenaga kerja.

Tidak usah terlalu jauh, entrepreneurship tidak harus sedemikian rumitnya. Ilmu yang kita dapat selama perkuliahan dapat kita bagi kepada orang lain, orang yang membutuhkan ilmu tersebut dalam terapan kerja. Dengan mengadakan kursus dan kepelatihan kepada mereka sudah merupakan cakupan entrepreneurship juga. Bayangkan jika seorang lulusan perguruan tinggi di samping aktivitasnya sebagai pegawai dia juga mengadakan usaha yang menyerap tenaga kerja 10 orang. Jika sebagian besar lulusan mahasiswa seperti itu, mungkin angka pengangguran turun tajam bukan suatu mimpi di siang bolong.

Itu semua hanya sebagian kecil contoh untuk membangun Entrepreneurship. Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengubah para lulusan perguruan tinggi yang berstatus "Job seeker" menjadi "Job Creator". Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat ini memang menuntut setiap individu untuk saling sikut untuk berebut kesuksesan. Tapi, sebagai insan yang masih memiliki nurani untuk saling menolong, "One Win All Win" adalah pernyataan yang tepat bagi mereka yang masih bisa tergugah hatinya untuk tidak melupakan sekitar dan meraih kesuksesan bersama.
Semoga bermanfaat.
(Sesungguhnya perbedaan pendapat itu rahmat)

Minggu, 10 Mei 2009

Berusaha Menjadi Kaya Raya...

Apa yang terlintas di benak kita jika mendengar kata di atas? Mungkin sebagian beranggapan terlalu materialistis atau beberapa yang lain mengatakan:"Kehidupan akhirat lebih penting!". Ehm,memang ada benarnya jika kita artikan demikian. Kita tidak boleh materialistis dan tidak hanya memikirkan dunia saja. Tapi apakah Allah sendiri melarang kita untuk menjadi seorang kaya raya? Bahkan Rasulullah Muhammad SAW sendiri adalah seorang pengusaha rangkap manajer yang kaya raya. Berkat kerja keras dan keuletan Beliau ,beliau bisa menjadi seorang pebisnis handal. Islam juga melarang umatnya menjadi seorang pengemis, seorang yang hanya mengadahkan tangannya menunggu belas kasihan orang lain. Tunggu dulu, pengemis bukan berarti dia harus berada di perempatan jalan sambil membawa kaleng bekas dan berpakaian compang-camping. Sekarang,wujud pengemis tidak hanya seperti itu. Sebagai contoh antara lain:peneliti perguruan tinggi yang berusaha mencari dana dari negara atau lembaga asing guna mengembangkan penelitiannya atau sekedar mencukupi kebutuhannya. Sungguh memilukan. Kajian ilmu pengetahuan dihambat oleh kekurangan dana dan harus "mengemis" kepada lembaga/negara asing. Lebih memilukan lagi adalah mahasiswa-mahasiswa yang mau disuap oleh pihak tertentu untuk melakukan demonstrasi kepada pemerintahan. Mungkin anda berkata "Itu bukan pengemis!". Bisa jadi ya. Tetapi seberapa persen anda yakin mahasiswa itu sepenuh hati melakukan demonstrasi tanpa ada "uang belas kasihan"? Satu lagi "pengemis" yang belum disebutkan yaitu seorang pemuda yang masih meminta uang atau harta dari orang tuanya walaupun dia bisa bekerja. Ini adalah salah satu fenomena di mana mental pemuda Indonesia yang miskin jiwa kewirausahaan dan berharap kejatuhan harta orang tuanya. Ironis sekali.
Memang zaman serba sulit dan kekayaan yang ingin dicapai membutuhkan jalan yang panjang dan usaha keras. Tapi, Allah sudah menyeru kepada umatnya untuk bekerja keras mencari rizki di bumi ini. Allah tidak menyukai orang-orang pemalas. Rasulullah pun menjadi seorang pengusaha kaya-raya tidak hanya karena kasih sayang Allah kepada utusannya. Rasulullah sebagai manusia biasa juga membutuhkan perjuangan keras untuk mencapai keberhasilannya. Berikut sekilas tentang keberhasilan karir Rasulullah.
  • Rasulullah pertama kali menjadi seorang "E" atau employee (pegawai) dari seorang saudagar kaya Siti Khadijah. Beliau adalah suri teladan yang baik di mana saja termasuk dalam hal pekerjaan. Dikisahkan beliau adalah seorang yang jujur dalam berdagang,tidak menyembunyikan kecacatan barang dagangan,tidak mengurangi timbangan dan pernah suatu ketika beliau tetap setia menunggu seorang pelanggan yang lupa datang untuk bertransaksi sampai berhari-hari lamanya. Ini merupakan bukti bahwa walaupun sebagai seorang "sales" bukan berarti menghambat diri untuk selalu menjadi seorang yang bisa berbuat lebih baik kepada "perusahaan".
  • Karena kejujuran dan cara berdagang yang yang disukai pelanggan ,maka Siti Khadijah mengangkat Rasulullah menjadi seorang manajer yang mengendalikan seluruh aktivitas bisnis Siti Khadijah. Sebagai seorang manajer,tindak-tanduk Rasulullah sangatlah terpelihara dan wajib kita teladani.Beliau berhasil mengembangkan usaha Siti Khadijah hingga usahanya terkenal di seluruh kota Mekah saat itu.
  • Setelah pernikahan Rasulullah dengan pemilik usaha beliau,Rasulullah merangkap menjadi pemilik selain menjadi seorang manajer. Bukan berarti karena sebuah pernikahan beliau dapat menjadi pemilik sekaligus pemimpin perusahaan,melainkan beliau sangat memiliki jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab penuh terhadap usahanya. Gaya kepemimpinan seorang Rasul kita ini menjadi acuan yang baik dalam memimpin sebuah organisasi. Setelah kepemimpinan beliau,perusahaan Rasulullah menjadi yang terkenal dan terkaya saat itu.
  • Kekayaan Rasulullah bukan berarti sebagai alat untuk bersenang-senang,melainkan dengan kekayaan itu Rasulullah menghabiskannya di jalan Allah untuk berperang dan berjihad. Bagaimana kehidupan Rasulullah setelah memiliki harta yang cukup banyak itu? Sederhana adalah kata yang tepat menggambarkan kehidupan Rasulullah. Harta benda beliau hanya digunakan untuk jalan Allah. Selain jihad, rasa sosial Rasulullah sangatlah besar. Begitu dermawannya Rasulullah sampai-sampai pada suatu hari beliau menawarkan kepada seorang peminta-minta untuk mengambil apa yang dia mau dari Rasulullah setelah empat hari berturut-turut peminta-minta itu mengemis kepada Rasulullah dan tepat pada hari keempat Rasulullah tidak mempunyai uang.
Dari sekilas kisah di atas sangat pantas jika mengatakan Rasulullah pun mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi kaya-raya. Seorang pegawai pun akan mencapai kekayaannya jika dia sungguh-sungguh dan bersyukur dalam menjalani pekerjaannya. Namun,sekali lagi kaya-raya yang diharapkan Rasulullah memberi hikmah kepada kita agar kita tidak miskin hati. Kaya raya adalah ketika kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada harta kekayaan kita yang berarti kita harus kaya hati dan selalu bersyukur terhadap kekayaan yang Dia berikan kepada kita baik kesehatan,Islam maupun Iman.
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur(Q.S Al Jaatsiyah:12).
Waalllahu alam bis sawwab...